TIMNAS INDONESIA KEMBALI “JUARA” 2 (DUA): TIDAK LAYAK UNTUK DIHUJAT !!!

0 Comments

Tulisan ini hadir setelah Leg ke – 2 Final Piala AFF 2020. Sebelum membahas bagaimana sudut pandang saya serta, prose, kinerja, effort, dan apa yang terjadi digelaran AFF Suzuki Cup 2020, saya ingin menyampaikan bahwa:

  1. Teruntuk para politikus, stop untuk mengundang para pemain-pemain Timnas untuk jamuan makan nasi goreng bersama dikediaman masing-masing atau gedung tempat bekerja dan jangan “pansos” membuat poster dukungan hanya pada saat Timnas meraih hasil yang membahagiakan.
  2. Teruntuk pihak telivisi jangan undang para pemain Timnas untuk tampil diacara yang memang tidak mendidik dan juga “alay”, sebab akan membuang-buang tenaga para pemain Timnas.
  3. Para pengurus PSSI pusat, jangan “sok” yang paling berpengaruh dengan hasil yang diraih oleh para pemain Timnas, benahi dan koreksi saja kondisi dimanajemen anda, serta perbaiki kualitas kompetisi demi kebaikan Timnas juga.

Berikutnya saya akan mencoba menuangkan dan berbagi opini saya terkait perjalanan Timnas Indonesia digelaran AFF Suzuki Cup 2020, Kita patut untuk berbangga dan mengapresiasi perjuangan Timnas Indonesia di AFF Cup 2020 kali ini, memang hasil yang didapat adalah hasil yang bukan kita harapkan, masyarakat berharap memutus kutukan runner up digelaran AFF Cup akan tetapi hasil diatas lapangan belum bisa tercapai. Namun seakan tidak adil jika kita hanya menilai melalui hasil akhir saja. Mari kita lihat dari cara bermain Timnas Indonesia dibawah “nahkoda” Coach Shin Tae-Yong (STY), (1) Transisi cara bermain dari Coach Luis Milla ke Coach STY terlihat jelas, bakat-bakat para pemain Indonesia yang diberkahi dengan kecepatan sangat diandalkan oleh Coach STY, pendekatan Coach STY memang “terkesan” bermain pragmatis akan tetapi mampu memanfaatkan kecepatan para pemain yang dimiliki. (2) Endurance atau daya tahan pemain sangat digembleng oleh Coach STY, karena pendekatan taktik yang diterapkan oleh Coach STY melakukan counter attack, membutuhkan daya tahan yang cukup bagus. Tak jarang pula para pemain berani melakukan build-up di daerah sendiri.

Kemudian mari kita lihat dari pemilihan skuad yang dibawa oleh Coach STY dan hal-hal non-teknis dari Coach STY, (1) Para pemain pilihan Coach STY masih berusia belia dan nama-nama “baru” bagi masyarakat Indonesia (kecuali para pemain seperti Witan, Egy, Evan Dimas, Nadeo dll), para pemain yang sering menjadi starting eleven adalah para pemain dengan rata-rata usia 19-22 tahun, hal ini sangat bagus untuk Timnas Indonesia dimasa yang akan datang. (2) Selama mempersiapkan Timnas Indonesia Coach STY tidak banyak melakukan perubahan skuad mulai dari lanjutan Kualifikasi Piala Dunia 2022 sampai AFF Cup 2020. (3) Kedisiplinan, terkait hal kedisiplinan Coach STY tidak pandang bulu, tak peduli nama besar atau terpandang jika tak sesuai dengan apa yang beliau terapkan akan langsung dicoret dari Timnas Indonesia. (4) Menumbuhkan kepercayaan diri, memberikan kesempatan, dan memaksimalkan para  pemain-pemain muda Timnas Indonesia untuk bermain dengan daya juang tinggi. Beberapa hal itulah dari saya yang bisa kita apresiasi dan terus mendukung kerja para pemain, Coach STY serta staff pelatih yang telah berjuang memberikan yang terbaik untuk Indonesia.

Diakhir kompetisi AFF Cup 2020, Coach STY memberikan motivasi dan nasehat kepada pemain untuk berani berkarir diluar negeri untuk mendapat ilmu, atmosfir kompetisi yang lebih baik dan sudut pandang yang berbeda soal sepakbola, berikutnya Coach STY menyampaikan bahwa Kualitas liga harus ditingkatkan dengan baik karena akan memberikan pengaruh yang positif Untuk Timnas. Hal ini yang harus segera di respon dengan cepak oleh pemangku kebijakan organisasi atau PSSI. Tidak bisa dipungkiri apa yang disampaikan oleh Coach STY demi kebaikan Timnas Indonesia. Yang jelas PR sepakbola Indonesia sangat banyak dan panjang terkait masalah development dari level grassroot sampai liga tertinggi, kemudian suporter yang masih acap kali tawuran, dan pemangku jabatan itu sendiri, sangat banyak jika harus dijabarkan satu persatu.  Terima kasih para pemain dan staff pelatih yang telah berjuang, berikan efek positif kepada semua pihak jika sudah kembali pad klub masing-masing, akhir kata dari saya berikan kesempatan serta dukungan kepada Coach STY untuk membangun Timnas Indonesia walupun dengan keadaan ditubuh PSSI yang amburadul.

Oleh: Eboy (penggiat olahraga masyarakat/ Founder Kuantanamo Futsal Academy )


Leave a Reply

%d bloggers like this: