Teori Futsal

Teori Futsal

1. Futsal
         Futsal berasal dari kata futbol (sepak bola), dan sala (ruangan), yang artinya permainan futsal dilakukan di dalam ruangan yang relatif kecil. Permainan ini dilakukan dengan cepat dan dinamis sehingga sangat dibutuhkan kerjasama antar pemain lewat passing yang akurat, ball possession, timing dan positioning yang tepat (Amiq, 2014:1). Futsal juga merupakan permainan tim kalaboratif/permusuhan pemain yang membutuhkan ruang adaptasi dalam perubahan lingkungan yang dinamis, serta membutuhkan tinggi tingkat keterlibatan keterampilan social dan motorik, dengan aspek taktis ( dalam hal persepsi dan pengambilan keputusan ) (UEFA, Nyon : 2017). Futsal dipopulerkan di Montevideo, Uruguay tahun 1930 oleh Juan Carlos Ceriani, seorang pelatih sepak bola asal Argentina. Ceriani tidak sengaja menciptakannya, karena waktu itu pada saat club sepak bolanya akan melaksanakan latihan, tiba-tiba hujan turun, sehingga dia berinisiatif memindahkan latihan di dalam ruangan. Ternyata, hasil latihan yang dilakukan membuahkan hasil yang sangat memuaskan. Kemudian diciptakannya olahraga tersebut dengan jumlah lima pemain. Kompetisi Internasional futsal pertama kalinya digelar tahun 1965-1979, hingga akhirnya terbentuknya FIFUSA (The Federacao Internationale de Futebol de Salao/Federasi Futsal AS). Futsal di Indonesia mulai berkembang tahun 1998-2002. Ketika Indonesia didaulat oleh AFC (Asian Football Confederation) untuk menyelenggarakan putaran final kejuaraan futsal tingkat Asia di Jakarta (Rinaldi & Rohaedi, 2020).
2. Faktor Yang Mempengaruhi Prestasi Atlet
        Prestasi terbaik yang di dapat oleh atlet merupakan hasil pembinaan dan latihan yang sudah diberikan  melalui latihan dan kompetisi yang terprogram dengan baik dan terarah. Untuk pencapaian prestasi tersebut ada faktor pendukung, yaitu faktor internal dan eksternal.
  1. Faktor internal
        Faktor internal atau faktor yang berasal dari dalam adalah faktor pendukung yang sangat penting dalam proses pembinaan prestasi khususnya bulutangkis. Kondisi fisik merupakan salah satu syarat yang dibutuhkan dalam setiap usaha peningkatan prestasi atlet, bahkan dapat dijadikan sebuah landasan titik tolak suatu awalan prestasi (Oktian, 2016:239). Secara umum, pengembangan lebih dulu atlet harus berfokus utama pada pengembangan multilateral, yang menargetkan pengembangan keseluruhan kemampuan fisik dari atlet. (Aprilia  2018:57). Faktor internal ini terdapat dari dalam diri atlet itu sendiri dengan segala potensi yang  dimilikinya. Faktor itu meliputi kemampuan fisik, teknik, taktik, dan mental atlet.
  1. Faktor eksternal
        Faktor eksternal ini mempengaruhi prestasi atlet yang berasal dari luar diri atlet tersebut atau berasal dari kemampuan atlet. Faktor itu dari pelatih, atlet, peran pemerintah, partisipasi masyarakat, manajemen dan organisasi olahraga, sarana dan prasarana, ilmu pengetahuan dan teknologi.
        Prestasi atlet lebih dominan mempengaruhi dari faktor internal, dikarenakan berasal dari dalam diri atlet tersebut, seperti kondisi fisik, teknik, taktik dan mental. Apalagi latihan kondisi fisik sangatlah perlu dibutuhkan dalam menunjang prestasi atlet, tanpa latihan kondisi fisik teknik dan taktik tidak akan berjalan semestinya, karena latihan kondisi fisik merupakan kunci dalam pertandingan.
3. Analisis Kondisi Fisik Atlet Futsal
       Futsal olahraga yang mengajarkan bermain dengan sirkulasi bola yang sangat cepat, menyerang, bertahan dan juga sirkulasi pemain tanpa bola ataupun timing yang tepat. Oleh karena itu diperlukan kemampuan menguasai teknik dasar bermain futsal. Teknik dasar tersebut antara lain, mengumpan (passing), menahan bola (control), mengumpan lambung (chipping), menggiring (dribbling), menendang/menembak (shooting)( Lhaksana, 2011). Kesiapan fisik yang optimal juga berpengaruh untuk mencapai suatu prestasi. Berikut ini macam-macam komponen kondisi fisik yang harus dimiliki dengan baik oleh seorang pemain, kekuatan (strength), daya tahan (endurance), daya ledak (muscular power), kecepatan (speed), daya lentur (flexsibility) kelincahan (agility), koordinasi (coordination), keseimbangan (balance), ketepatan (accuracy), reaksi (reaction)(Amiq, 2016).
      Apalagi permainan futsal identikdengan  gerakan bola yang tidak menentu maka untuk mengontrol,menggiring, menendang, berlari, maupun berhenti secara tiba-tiba. Para pemain futsal harus memiliki kondisi fisik yang baik agar dapat menampilkan kemampuan secara maksimal.Olahraga futsal paling dasarnya,futsal seperti permainan gerak tanpa henti. Durasi dalam permainan futsal  20 x 2 menit,orang yang mempelajari gerakan dalam futsal menggambarkan tindakan yang berbeda seperti berdiri,berjalan, jogging dan lari cepat. Kecepatan pada permaian futsal selalu dilakukan dengan intensitas tinggi bahkan sangat tinggi,yang selanjutnya dapat dikombinasikan dengan lompat,lari menyamping,lari diagonal dan lari mundur. Sebaliknya permainan futsal gabungan dari berbagai tindakan,kecepatan,dan perubahan arah.
        Kondisi fisik merupakan  suatu  syarat  yang  harus  dimiliki  oleh  seorang  atlet, dalam   meningkatkan   dan   mengembangkan   prestasi   olahraga   yang optimal,  sehingga  segenap  kondisi  fisiknya  harus  dikembangkan  dan ditingkatkan  sesuai  dengan  ciri,  karakteristik,  dan  kebutuhan  masing masing  cabang  olahraga. Maka dari itu untuk meningkatkan kondisi fisik atlet pelatih dalam merancang program latihan harus menggunakan komponen latihan fisik. Komponen latihan fisik meliputi (1) intensitas, adalah tingkat usaha yang dikeluarkan atlet selama latihan fisik, (2) durasi, adalah panjang atau lamanya melakukan latihan, (3) frekuensi, adalah jumlah sesi latihan fisik selama perminggu, (4) cara (mode), adalah jenis latihan yang dilakukan (Wuest, 1995). Jika merancang suatu program latihan harus memperhatikan volume adalah kesatuan dari bagian-bagian waktu atau lamanya latihan,jarak tempuh atau berat beban per unit waktu,jumlah ulangan (repetisi) yang dilakukan dalam tempo tertentu ( Bompa, 2015).
        Latihan dalam futsal sangat berpengaruh untuk mencapai tujuan yang akan diinginkan,latihan harus dilakukan 2-3 kali dalam seminggu.  Apalagi permainan futsal sangat bergantung pada komponen latihan,sehingga keterampilan latihan fisik dan teknik latihan yang ditargetkan. Pada fase latihan dapat dibedakan menjadi 3 fase pada  Fase 1: aktivasi sistem kardiovaskular untuk meningkatkan aliran darah (sekitar 35% dari total pemanasan),Fase 2: aktivasi kelompok otot utama dengan penguatan ringan, peregangan dan latihan santai (55%),Fase ke-3: persiapan sistem saraf dan organ sensorik untuk mengatasinya koordinasi dan kecepatan tuntutan bagian utama (10%).
       Pada sesi warming up dianjurkan dalam waktu 20-25 menit,dimana 10-15 menit lebih menekankan pada stimulus maksimal pada otot rangka,membutuhkan lari sprint 2-3 set dengan jarak 15-20 meter. Pada sesi ini suhu tubuh berada di angka 21,5-38 Celsius. Permainan futsal yang identic dengan lapangan berukuran panjang 25-42 m x lebar  15-25 m selalu membutuhkan kecepatan gerak untuk melakukan serangan, passing, control dan mencari ruang untuk strategi permainan. Jarak keseluruhan yang ditempuh terdiri dari 11% berjalan, 36% joging, 20% berjalan, 24% lari cepat atau aktivitas habis-habisan dan 2% bergerak mundur. Sekitar 7% dari total jarak yang ditempuh adalah dalam penguasaan bola (Strudwick and Reilly,2001).
        Futsal dimainkan dalam waktu 2 x 20 menit, kemungkinan dalam futsal membutuhkan latihan daya tahan yang harus mencapai 150-170 denyut per menit, dengan periode pada atau diatas 180 denyut per menit, pemain bekerja dengan kapasitas 75-80 persen.Diperkirakan intensitas latihan rata-rata selama pertandingan futsal sesuai dengan 75% VO2 max (UEFA, Nyon : 2017). Sedangkan permainan futsal  dimainkan dilapangan berukuran, panjang 25-42 meter dan lebar 15-25 meter, maka untuk latihan kecepatan  membutuhkan waktu hanya 10 -12detik dalam kecepatan berlarinya dengan intensitas 75-100 %. Pada latihan untuk  usia pra-remaja peningkatan kekuatan sebagian besar berasal dari meningkatkan volume latihan dengan menambah pengulangan dan set saat latihan misalnya 2-3 set dan 12-15 pengulangan/repetisi pada 2-3 hari tidak berurutan dalam seminggu. Dalam futsal  Kekuatan otot tungkai dibutuhkan untuk menendang, sliding tackle dan body charge peningkatan latihannya dibutuhkan mencapai 50-80%. Kekuatan otot perut membutuhkan 60-70 %, sedangkan latihan kelincahan membutuhkan waktu kurang dari 13.52 detik, untuk dapat menggiring dan melewati lawan dengan cepat (Albertus, 2014)
       Latihan daya tahan aerobic, intensitas latihan harus berkisar antara 50–80% VO2 max atau lebih dari 60% detak jantung maksimal. Dalam menghitung detak jantung latihan yang memunculkan stimulus pelatihan ke sistem peredaran darah, rumus Karvonen telah diadaptasi. Ini menentukan bahwa detak jantung latihan harus di atas 60% dari perkiraan rentang detak jantung (maksimum minus detak jantung istirahat). Sedangkan sebagian besar latian  anaerobik. Rata-rata, pemain lapangan harus melakukan upaya intensitas tinggi setiap 30 detik dan sprint habis-habisan setiap 90 detik, dan ada perubahan dalam tingkat aktivitas setiap 4–5 detik (Kirkendall, 2021).
       Dapat disimpulkan bahwa permainan futsal membutuhkan kecepatan bermaian sekitar 75-80%, daya tahan dibutuhkan 60% ke atas, kekuatan otot tungkai membutuhkan 50-80 %, kekuatan otot perut membutuhkan 60-70 %, kelincahan membutuhkan waktu kurang dari 13.52 detik atau  sekitar 50-80 %.
4. Latihan
       Latihan dapat didefinisikan sebagi proses melakukan kegiatan olahraga yang dilakukan berdasarkan program latihan yang disusun secara sistematis, bertujuan untuk meningkatkan kemampuan atlet dalam upaya mencapai prestasi yang semaksimal mungkin, terutama dilaksanakan untuk persiapan menghadapi suatu pertandingan (Budiwanto, 2014:16).
       Latihan merupakan suatu bentuk kegiatan olahraga yang disusun secara sistematis dalam jangka waktu yang panjang,dan ditingkatkan secara bertahap dan perorangan,bertujuan membentuk manusia yang berfungsi fisiologis dan psikologisnya untuk memenuhi tuntutan tugas  (Bompa, 2019).
       Dapat disumpulkan bahwa latihan kondisi fisik merupakan merupakan proses yang disusun secara sistematis,terprogram dalam jangka waktu yang panjang, menuntun timbulnya perubahan yang berkaitan dengan kempuan seorang atlet.
       Tujuan utama dari latihan adalah untuk meningkatkan kinerja atlet. Untuk tercapainya performance yang diharapkan,maka pelatih harus memperhatikan prinsip-prinsip latihan.
5. Latihan Pembentukan Fisik
        Latihan fisik adalah aktivitas olahraga yang dilakukan secara sistematis dalam mempersiapkan olahragawan atau atlet pada tingkat tertinggi dalam penampilannya dan untuk menjaga kebugaran dan kesehatan tubuh. Intensitas latihan ditingkatkan secara progresif serta dilakukan secara sistematis dan berulang-ulang (repetitive) dalam jangka waktu yang ditentukan sesuai dengan kemampuan individu dengan tujuan untuk mencapai peningkatan kemampuan atau prestasi olahraga (Ariani, 2011).
        Latihan pembentukan fisik merupakan unsur penting dan menjadi dasar/fondasi dalam pengembangan teknik, taktik, strategi dan pengembangan mental. Status kondisi fisik dapat mencapai titik optimal jika dimulai latihan sejak usia dini, dilakukan secara terus-menerus sepanjang tahun, berjenjang dan berpedoman pada prinsip-prinsip latihan secara benar. Di samping itu, pengembangan fisik harus direncanakan secara periodik berdasarkan tahapan latihan, status kondisi fisik atlet, cabang olahraga, gizi, fasilitas, alat, lingkungan dan status kesehatan atlet. (Bafirman & Asep Wahyuri, 2019). Tidak hanya itu latihan kondisi fisik  kebutuhan  yang  diperlukan  dalam  meningkatkan  kinerja  seorang  atlet,  bahkan  dapat dianggap  sebagai  kebutuhan  dasar  yang  tidak  dapat  ditunda  atau  dinegosiasikan ( Irawadi, H. 2017).
        Latihan pembentukan fisik merupakan faktor yang sangat penting dalam program latihan  yang bertujuan untuk mencapai kemampuan yang tertinggi. (Bompa, 2019). Perlu diingat bahwa kemampuan fisik sangat labil mudah untuk berubah menurun. Maka dari itu latihan harus dilakukan secara teratur dan terus menerus tanpa berselang dengan beban yang tepat sesuai dengan rencana latihan. Kegiatan latihan harus direncanakan dan disusun dalam suatu program latihan,baik jangka pendek,menengah dan jangka panjang.
        Dalam mengelola program latihan pembentukan fisik disusun dengan urutan berikut : (1) pembentukan fisik umum, (2) pembentukan fisik khusus, (3) kemampuan biomotor tingkat tinggi.
6. Latihan Pembentukan Fisik Umum
        Tujuan utama pembentukan fisik umum dalam latihan olahraga adalah untuk meningkatkan kapasitas kerja atlet,dengan potensi kerja yang lebiih tinggi,lebih mudah tubuh beradaptasi terhadap bertambahnya tuntutan fisik dan psikis pada latihan selanjutnya. Untuk atlet pemula,pembentukan fisik umum pendekatannya sama dengan atlet tingkat lanjut meskipun kurang memperhatikan pengkhususan cabang olahraga. Untuk atlet tingkat lanjut dapat dikaitkan dengan kekhususan dan kebutuhan olahraga,dan juga ciri-ciri perorangan. (Bompa, 2019).
        Pada program latihan pembuntukan fisik umum sasaran yang dicapai yaitu kesegaran jasmani. Kesegaran jasmani adalah kemampuan seseorang bekerja secara efesien dan efektif,menikmati waktu luang,menjadi sehat dan tanpa mengalami kelelahan.
        Unsur yang membentuk kesegaran jasmani adalah kekuatan daya tahan otot,daya tahankardiovaskular/respiratori,kecepatan,kelincahan,power,kelenturan,keseimbangan,ketepatan,dan koordinasi.
7. Prinsip-Prinsip Latihan
       Dalam hal ini pelatih harus mengetahui prinsip-prinsip latihan,agar latihan dapat mencapai sesuai tujuannya. Jika prinsip latihan tidak dilakukan maka akan sukar bagi atlet untuk dapat meningkatkan kemampuan fisik maupun teknik,yang mengakibatkan atlet sulit untuk berpretasi,serta latihan tidak akan berjalan secara optimal. Prinsip latihan yang di kemukanan oleh Bompa (2019)  tersebut meliputi :
a. Prinsip beban berlebih (overload)
       Prinsip beban berlebih ini berkaitan dengan intensitas latihan. Beban latihan pada suatu waktu harus merupakan beban lebih dari sebelumnya. Pada atlet muda, denyut nadi maksimal saat melakukan latihan dapat mencapai 180-190 kali permenit.. jika atlet tersebut diberi beban latihan yang lebih, maka denyut nadi maksimal akan mendekati batas terteinggi. Penambahan beban latihan harus melebihi kebiasaan kegiatan sehari-hari secara teratur. Hal ini bertujuan agar sistem fisiologis dapat menyesuaikan dengan tuntutan fungsi yang dibutuhkan untuk tingkat kemampuan tinggi.
b. Prinsip individual (individualization)
       Prinsip individual adalah salah satu syarat utama pelatihan kontemporer, yang mengaharuskan pelatih mempertimbangkan kemampuan, potensi, dan pembelajaran karakteristik dan olahraga. Seluruh konsep latihan harus direncanakan sesuai dengan karakteristik fisiologis dan psikologis atlet, sehingga tujuan latihan dapat di tingkatkan secara wajar. Prinsip individual tidak dipikir hanya sebagai sesuatu cara untuk membetulkan teknik individu atau spesialisasi posisi seorang pemain dalam tim. Tetapi lebih sebagai suatu cara untuk menentukan dan mengamati secara obyektif.
c. Prinsip kekhususan (specialization)
       Prinsip ini menekankan bahwa latihan  harus dikhususkan sesuai dengan kebutuhan setiap cabang olahraga dan tujuan latihan. Prinsip kekhusuan adalah proses non sepihak yang kompleks didasarkan pada perkembangan multirateral. Dari latihan pertama seorang pemula hingga mencapai atlet dewasa, jumlah volume dan intensitas latihan meningkat secara progresif. Keadaan ini akan menjadi dasar-dasar fisiologis terhadap latihan kekhususan di usia selanjutnya. Latihan harus memiliki cirri dan bentuk yang khusus  sesuai dengan cabang olahraga.

Gambar 1.1 prinsip kekhususan (spesialisasi).
d. Prinsip variasi
       Variasi adalah salah satu komponen kunci yang diperlukan untuk mendorong adaptasi dalam menanggapi latihan. Pada saat latihan menyarankan untuk membuat variasi latihan, karena kurangnya variasi latihan dapat mengakibatkan program latihan yang berlebihan. Dalam upaya mengatasi masalah itu keterampilan dan latihan dapat diperkaya dengan mengadopsi pola gerakan teknik yang sama, atau dapat mengembangkan kemampuan gerak yang diperlukan dengan olahraga.
e. Prinsip menambah beban latihan secara progresif.
       Prinsip latihan secara progresif  menekankan bahwa atlet harus menambah waktu latihan secara progresif dalam keseluruhan program latihan. Contoh berlatih dengan beban latihan antara 60-70 % dari kemampuan dengan waktu latihannya antara 25-30 menit, maka atlet tersebut harus menambah waktu latihannya antara 40-50 menit dengan beban latihan yang sama. Atau jenis latihannya berupa lari, disarankan menambah jarak lari lebih jauh dibanding jarak lari sebelumnya.
f. Prinsip latihan menggunakan model
       Model adalah suatu tiruan dari aslinya, memuat bagian khusus suatu fenomena yang diamati atau diselidiki. Dalam menciptakan suatu model, diperlukan adalah tunggal, tanpa mengurangi variable-variabel penting lainnya, dan mempunyai kemiripan dan ajeg dengan keadaan sebelumnya. Tujuan menggunakan model untuk memperoleh suatu yang ideal, kenyataan konkrit, tetapi juga menggambarkan sesuatu yang diusahakan untuk dicapai. Suatu model mempunyai kekhususan untuk setiap perorangan atau tim
g. Prinsip multirateral
        Dalam olahraga prinsip multirateral/perkembangan fisik adalah suatu  kebutuhan.  Perkembangan Multilateral mempunyai manfaat khusus yaitu:
  1. Peningkatan kinerja yang lebih lambat
  2. Penampilan terbaik pada usia 18 atau lebih ketika atlet telah mencapai fisiologis dan pematangan psikologis
  3. Kinerja yang konsisten dan progresif dalam persaingan
  4. Karier atlet yang lebih panjang
  5. Lebih sedikit cedera sebagi akibat dari pola pembebanan yang lebih progresif dan fisiologis secara keseluruhan.
                         Gambar 1.2 model latihan multirateral.
h. Prinsip partisipasi aktif berlatih.
       Kesungguhan dan aktif ikut serta dalam latihan akan dimaksimalkan jika pelatih secara periodik, ajeg mendiskusikan kemajuan atletnya bersama-sama dengannya.  Pelatih harus bekerja sama mencapai tujuan latihan bersama atletnya. Maka mereka akan berperan aktif dalam menetapkan tujuan sesuai dengan kemampuannya. Tidak hanya pelatih atlet juga harus berpartipasi dalam perencanaan program latihan jangka panjang dan pendek, juga dalam analisisnya.
i. Prinsip pulih asal (recovery).
       Pada waktu menyusun program latihan yang menyeluruh harus mencantumkan waktu pemulihan yang cukup. Apabila tidak memperhatikan waktu pemulihan ini, maka atlet zkan mengalami kelelahan yang luar biasa dan berakibat menurunnya penampilan. Jika pelatih memaksa member latihan yang sangat berat pada program latihan untuk beberapa waktu yang berurutan tanpa member kesempatan istirahat, maka kemungkinan terjadinya kelelahan hebat. Program latihan sebaiknya disusun berselang-seling antara latihan berat dan ringan. Latihan berat hanya dua hari sekali diselingi dengan latihan ringan.
8. Komponen-komponen Latihan
Ketika merancang suatu program latihan,pelatih tidak hanya melibatkan prinsip latihan sebagai pedoman suatu rancangan. Tetapi juga harus memperhatikan beberapa aspek komponen dari latihan. Komponen-komponen latihan tersebut meliputi:
  1. Intensitas latihan
    ukuran kesungguhan dalam melakukan latihan yang betul dalam pelaksanaannya (seperti pengeluaran energi atau kerja per unit waktu). Untuk menentukan besarnya ukuran intensitas dengan metode 1 RM (repetition maximum), yaitu kemampuan sekelompok otot untuk menggangkat maksimal dalam usaha tunggal (bompa, 2019).
  2. Volume latihan
    beban yang dinyatakan dengan jarak, waktu, berat, dan jumlah latihan. dalam pelatihan kekuatan peningkatan volume latihan menggunakan parameter mikro dan makro. mikro artinya ukuran/jumlah beban yang diselesaikan dalam satu tahap latihan. Contoh : atlet gulat telah menyelesaikan angkatan seberat 100.000, 75.000, dan 50.00 kg berturut-turut selama tahap persiapan umum, khusus dan tahap prakompetisi. Mikro artinya jumlah beban yang diselesaikan atlet selama satu minggu. dari volume makro setiap periode dibagi menjadi beberapa mikro, jika volume 1 makro tahap persiapan umum (100.000 kg) dibagi menjadi 4 mikro, maka volume satu mikro adalah 25.000 kg ( dengan catatan program latihan linier).
  3. Durasi
    lamanya latihan yang diperlukan.
  4. Frekuensi latihan
    berapa kali latihan setiap minggunya,cepat atau lambatnya suatu latihan dilakukan setiap set nya. contoh frekuensi latihan wanita lebih lama daripada pelatihan 2 hari per minggu, beban 50% x 10 RM, 75 % x 10 RM, 10 RM, Dan 4-5 jenis latihan beban. Beban 10 RM adalah berat maksimal yang hanya mampu diangkat maksimal 10 ulangan.
                       gambar 1.3. contoh frekuensi, volume, dan intensitas latihan kekuatan
  5. Ritme
    alur dari irama latihan yang berhubungan dengan tinggi rendahnya tempo dan berat tingginya atau latihan dalam suatu set latihan.
  6. Recovery
    waktu pemulihan setelah melakukan latihan atau waktu istirahat dari jenis latihan yang satu dengan latihan yang lain. Program latihan beban selama 4 minggu, istirahat berselang singkat (30-40 detik) antar set, hasilnya lebih jelek dalam meningkatkan kekuatan dibandingkan dengan istirahat 2 sampai 3 menit.
  7. Interval
    bentuk latihan yang diulang-ulang dan setiap melakukan satu kali bentuk latihan akan diselangi dengan istirahat (waktu istirahat yang diberikan antar seri,sirkuit,atau antar sesi dalam satu macam latihan).
  8. Set
    jumlah ulangan untuk satu macam latihan. Set juga disebut rangkaian interval kerja dan istirahat. Contoh: atlet melakukan push up 5 kali (5 repetisi),lalu istirahat,berarti sudah 1 set,kemudian mengulangi lagi,selesai jadi 2 set. Intinya set adalah rangkaian dari repetisi.
  9. Repetisi
    banyaknya jumlah dalam satu set ( jumblah ulangan yang dilakukan tiap butir latihan). Repetisi juga sangat ditentukan oleh intensitas, kecepatan eksekusi pelatihan dan tujuan yang diinginkan. Secara logika intensitas berbanding terbalik dengan jumlah repetisi. Semakin tinggi intensitas, eksekusi relatif lambat dan repetisi semakin rendah.
  10. Seri atau sirkuit
    penyelesaian dari rangkaian latihan yang berbeda. (dari satu sikuit lebi dari satu macam latihan yang haru diselesaikan dalam satu rangkaian).
  11. Sesi
    suatu program latihan yang harus diselesaikan dalam setiap tatap muka.
    Daftar Rujukan
    Amiq, F. (2014). Futsal (sejarah, teknik dasar, persiapan fisik, strategi, dan peraturan permainan). Malang : Universitas Negeri Malang.
    Anwar, B. (2017). Futsal Dasar. Malang: Universitas Negeri Malang.
    Aprilia, K.N., Kristiyanto, A. dan Doewes, M. 2018. Analisis Penerapan Prinsip-Prinsip Latihan Terhadap Peningkatan Kondisi Fisik Atlet Bulutangkis PPLOP Jawa Tengah Tahun 2017/2018. Journal Power of Sports, 1(1):55:63.
    Ariani, L.P. (2011). Pengaruh Pelatihan Menarik Katrol Beban 5 kg Dua Belas Repetisi Tiga Set dan Sembilan Repetisi Empat Set Terhadap Peningkatan Daya Ledak Otot Lengan Siswa SMK 1 Denpasar. Jurnal PENJASKORA Universitas Pendidikan Ganesha Jurusan Ilmu Keolahragaan.
    Balyi, I., Way, R., & Higgs, C. (2013). Long-term athlete development. Human Kinetics.
    Borg & Gall. (1983). Education research: An Introduction, Fift Edition. New York: Longman.
    Budiwanto, S. (2014). Pengetahuan Dasar Melatih Olahraga. Malang: Universitas Negeri Malang.
    Budiwanto, S. (2015). Tes dan Pengukuran Dalam Keolahragaan. Malang: Universitas Negeri Malang.
    Bafirman dan Asep Sujana. (2019).   Pembentukan Kondisi Fisik. Ed. 1, Cet. 1.—Depok: Rajawali.
    Bompa, T.O, & Buzzichelli,C. (2019). Periodization: theory and methodology of training. Human Kinetics.
    Dr. Johansyah Lubis,M.Pd.(2013). Panduan Praktis Penyusunan Program Latihan. Jakarta:Rajawali Pres.
    Feri kurniawan. (2012). Buku Pintar Pengetahuan Olahraga. Jakarta: Laskar Aksara
    Fox, T.L.E.L., Bowers, R.W., dan Foss, M.L. 1993.  The Physiological  Basis forxercise and Sport, 5th edition, Iowa: Brown & Benchmark Publishers.
    Golding,Lawrence,A.,andBos,Ronald,R. 1968. Scientific Foundations of Physical Fitness Programs. USA:Burgess Publishing Company.
    Halim, Sahda. (2012). 1 hari pintar main futsal.MedPress Digital
    Harsono. (2001). Latihan Kondisi Fisik . Bandung.
    Irawadi, H. (2017). Kondisi Fisik dan Pengukurannya. Padang: UNP Press.
    Kirkendall, Donaldt. (2021). Soccer anatomy. Human kinetics
    Lhaksana, Justinus. (2011). Taktik & Strategi Futsal Modern. Jakarta: Niaga Swadaya
    Nurhadiyan, T. dan Arisona, E. 2017. PerancanganAplikasi Strategi Formasi Futsal Berbasis Android. Jurnal PROSISKO 4(2).
    Oktian, B.F. 2016. Faktor yang Berhubungan dengan Kebugaran Jasmani. (VO2max) Atlet Sepak Bola. Jurnal Berkala Epidemiologi, 4(4):237-249.
    Ramiez-Campillo, R., Garcia-Pinilloa, F., Garcia-Ramos, A., Yanci, J., Gentil, P., Chaabene, H., & Granacher, U.(2018). Effects of different plyometric training frequencies on components of physical fitness in amateur female soccer players.Frontiers in physiology, 9.
    Reilly, Thomas. 2007. The science of training soccer. USA & Canada
    Rinaldi, Muhammad. 2020. Buku Jago Futsal.