Teori Atletik

Teori Atletik

Atletik (Athletics)

Cabang olahraga atletik bisa juga disebut dalam kategori olahraga yang penting untuk dilaksanakan pada olimpiade modern. Atletik adalah aktivitas jasmani yang terdiri dari gerakan-gerakan dasar yang harmonis Dan dinamis, yaitu jalan, lari, lempar serta lompat (Eddy Purnomo, (2011 : 1). Bila dilihat dari arti atau istilah “ATLETIK” berasal dari bahasa Yunani yaitu Athlon atau Athlum yang berarti lomba atau perlombaan bisa juga Pertandingan. Cabang olahraga atletik merupakan salah satu unsur penting dari olahraga, karena atletik memiliki bentuk kegiatan yang beragam, maka atletik dapat digunakan sebagai alat pembinaan bagi setiap cabang olahraga, karena luasnya lingkup ketangkasan (skills) dan mutu yang dituntut dalam cabang atletik, maka atletik merupakan olahraga dasar yang paling baik, sebagai tambahan peranan olahraga atletik sangat menentukan dalam upaya pengembangan kondisi jasmani, dan sering kali menyediakan landasan dasar bagi usaha-usaha peningkatan prestasi.

Menurut (Mochamad Djumidar A.widya, 2004 ) Atletik memiliki salah satu unsur dalam pendidikan jasmani dan kesehatan, pendidikan yang seluruhnya mengutamakan aktivitas jasmani serta kemampuan untuk membina diri untuk bisa hidup sehat juga pengembanngan jasmani, untuk mental, social juga emosional yang memiliki keserasian yang selaras dan seimbang adalah komponennya. Dapat diulang atletik adalah cabang olahraga paling tua di dunia dibandingkan dengan cabang olahraga yang lain, gerakan yang ada dalam atletik memiliki unsur kehidupan sehari-hari yaitu lari, jalan, lompat dan lempar. Berbagai macam dalam pilihan untuk olahraga atletik yang meliputi berbagai events yang berlainan, baik metode untuk melaksakannya, sifat yang identic dengan jasmaniah para pelaku aktivitasnya. Atletik memiliki peranan yang juga penting untuk meningkatkan kondisi fisik, dapat juga digunakan untuk dasar pokok peningkatan prestasi maksimal untuk cabang olahraga lainya. Dalam meningkatkan prestasi untuk olahraga atletik perlu adanya pelatihan bagi atlet agar dapat memperoleh prestasi maksimal. Karena atletik merupakan sarana yang cukup baik untuk dapat meningkatkan kemampuan tubuh menuju berprestasi secara umum.

Lari Jarak Pendek (Sprint)

Dalam bukunya (Yoyo Bahagia ( 2000 : 11) menyatakan bahwa lari adalah gerakan dari tubuh yang dimana kedua kaki melayang di udara( kedua telapak kaki lepas dari tanah) dapat juga diartikan secara berbeda dengan jalan yang selalu kontak dengan tanah. Lari adalah frekuensi langkah yang dipercepat sehingga badan cenderung melayang dapat diartikan waktu terjadi gerakan lari kedua kaki tidak terjadi sentuhan ke tanah sekurang-kurangnya satu kaki tetap dalam keadaan menyentuh tanah. (Mochamad Djuminar A. Widya, (2004 : 13) Definisi lari sendiri adalah sebagai gerakan tubuh yang apabila gerakan terjadi kaki tidak menyentuh tanah. Jadi lari adalah gerakan tubuh dimakan pada saatnya kaki tidak terjadi sentuhan ke tanah atau bisa diartikan dalam keadaan melayang dan berbeda dengan jalan yang salah satu kaki harus menyentuh tanah.

Lari jarak pendek (sprint) adalah lari dengan jarak tempuh 100 meter sampai dengan 400 (Yoyo Bahagia, Ucup Y, Adang S ( 2009 : 9 ). Sebagai pembahasan lari sprint 100 meter merupakan lari yang masuk kategori lari jarak pendek, dimana pelari diharuskan berlari dengan kecepatan maksimal dalam jarak 100 meter. Lari sprint 100 meter masuk menjadi bagian dari nomor yang dipertandingkan dalam cabang olahraga atletik. Menurut IAAF (2001 : 20)  nomor perlombaan lari sprint menjangkau 50 meter, bagi atlet yang sudah senior hanya dilombakan dalam ruangan saja (indoor), sampai dengan jarak 400 meter. Menurut Tamsir (1985 : 7) lari sprint adalah gerakan yang dilakukan dengan kecepatan maksimal dalam menempuh jarak yang sudah ditentukan.

Kunci yang pertama untuk harus dikuasai oleh pelari cepat atau sprint adalah awalan atau start. Terlambat atau tidak teliti dalam melakukan awalan adalah hal yang sangat merugikan bagi seorang pelari cepat atau printer. Oleh sebab itu, perilaku yang tepat dalam melakukan awalan atau start yang baik sangatlah harus diperhatikan dan dipelajari serta dilatih agar semakin tinggi untuk tingkat kecermatan atlet tersebut. Kebutuhan utama bagi sprinter adalah kecepatan horizontal, yang dihasilkan dari dorongan badan menuju kearah depan.

Prestasi sprint dapat dipengaruhi dengan panjang langkah dan frekuensi langkah. Sedangkan panjang langkah sendiri dipengaruhi oleh power. Power yang bagus atau baik perlu adanya diselaraskan dengan gerakan lari, sehingga keselarasan dalam penggunaan power adalah teknik dan untuk mencapai panjang langkah yang stabil dalam waktu yang lama memerlukan daya tahan khusus untuk mencapainya. Frekuensi dipengaruhi oleh kemampuan koordinasi gerak, apabila sangat baik dalam mengkondisikan koordinasi gerak maka akan lebih baik dalam melakukan frekuensi langkah yang dilakukan, sedangkan frekuensi langkah yang telah dilakukan dalam waktu yang lama memerlukan daya tahan khusus. Untuk koordinasi yang baik dipengaruhi oleh bagaimana teknik gerakan lari sudah mencapai keefektifan dalam pelaksanaannya sehingga semua komponen dapat saling mempengaruhi prestasi dalam lari sprint.

Latihan (Training)

Suatu kegiatan olahraga yang sistematis dalam waktu yang panjang, ditingkatkan secara bertahap dan perorangan, bertujuan  membentuk manusia  yang berfungsi fisiologis dan psikologisnya untuk memenuhi tuntutan tugas disebut dengan latihan (Bompa, 1994). Suatu program latihan fisik yang direncanakan dengan baik dapat membantu meningkatkan keterampilan, memperbaiki kesegaran jasmani dan terutama untuk mempersiapkan atlet dalam suatu pertandingan penting.  (Kent, 1994).

Prinsip-Prinsip Latihan

Berikut dijelaskan prinsip-prinsip latihan sebagai berikut :

  1. Prinsip Beban Lebih (Overload)

Konsep dari prinsip ini adalah berkaitan dengan seberapa berat suatu program latihan. Beban latihan harus selalu ditingkatkan agar kualitas atlet juga akan meningkat. Pada latihan kekuatan (strength), latihan dengan beban lebih adalah memberikan tambahan beban lebih berat atau memberikan tambahan ulangan lebih banyak saat mengangkat beban. Hal tersebut bertujuan agar tubuh atlet bisa menyesuaikan dengan adanya penambahan beban dalam program latihannya. Beban latihan yang ditambah adalah hal yang baik yang dapat diukur sesuai dengan frekuensi, istirahat, beban dan ulangan.

  1. Prinsip Spesialisasi

Latihan harus dirancang secara khusus sesuai tujuan yang ingin dicapai dan dibutuhkan dalam setiap macam olahraga. Hal itu harus diperhatikan karena dalam setiap cabang olahraga memiliki teknik-teknik tersendiri dan bentuk yang berbeda dengan cabang olahraga yang lainnya. Spesifikasi yang dimaksud seperti lapangan dan alat yang digunakan, gerakan, dan sistem energi yang digunakan.

Menurut (Bompa, 1994), kekhususan adalah sifat yang harus diterapkan dalam setiap cabang olahraga. (Bowers dan Fox, 1992) mengungkapkan bahwa dalam mengatur program latihan yang paling menguntungkan harus mengembangkan  kemampuan  fisiologis  khusus  yang diperlukan untuk melakukan keterampilan olahraga atau kegiatan tertentu.

  1. Prinsip Individual (Perorangan)

(Bompa, 1994) menjelaskan bahwa dalam memperlakukan atlet harus berbeda, sesuai dengan kemampuan dan karakteristik atlet tersebut. (Rushall and Pyke, 1990), menerangkan bahwa untuk membuat program latihan harus dibuat dengan menyesuaikan individu atau yang dibutuhkan oleh seorang atlet. Individualisasi dalam latihan adalah satu kebutuhan yang penting dalam masa latihan dan itu berlaku pada kebutuhan untuk setiap atlet, dengan mengabaikan tingkat prestasi diperlakukan secara individual sesuai kemampuan dan potensinya, karakteristik belajar, dan kekhususan cabang olahraga. Individualisasi dalam latihan menunjuk pada kenyataan bahwa pelatih harus membuat rencana latihan perorangan bagi masing-masing atlet dengan memperhatikan kemampuan masing-masing atlet.

  1. Prinsip Variasi

Menurut pendapat (Bompa, 1994), latihan tidak boleh monoton agar atlet tidak merasa bosan pada saat menjalankan proses latihan. Memvariasikan latihan dibutuhkan untuk mengatasi masalah tersebut. (Hazeldine, 1989) menjelaskan bahwa latihan  membutuhkan waktu yang lama untuk memperoleh adaptasi fisiologis yang bermanfaat, sehingga  ada ancaman terjadinya kebosanan dan monoton. Dengan adanya variasi dalam setiap program latihan secara tidak langsung atlet akan termotivasi dan disiplin dalam melaksanakan program latihan tersebut.

  1. Prinsip Menambah Beban Latihan secara Progresif

Yang dimaksud dalam prinsip latihan secara progresif adalah atlet diharuskan untuk menambah latihan di luar jam latihan yang sudah ditentukan pelatih atau menambah intensitas dari latihan yang diberikan pelatih. Contoh penerapan prinsip latihan secara progresif adalah jika seorang atlet telah terbiasa berlatih dengan beban latihan antara 60%–70% dari kemampuannya dengan waktu selama antara 25–30 menit, maka atlet tersebut harus menambah waktu latihannya antara 40–50 menit dengan beban latihan yang sama. Atau jika jenis latihan berupa latihan lari, disarankan menambah jarak lari lebih jauh dibanding jarak lari pada latihan sebelumnya.

  1. Prinsip Partisipasi Aktif dalam Latihan

(Bompa, 1994) mengemukakan bahwa pemahaman yang jelas dan teliti  tentang tiga faktor, yaitu lingkup dan tujuan latihan, kebebasan dan peran kreativitas atlet, dan tugas-tugas selama tahap persiapan adalah penting sebagai pertimbangkan prinsip-prinsip tersebut. Kesungguhan dan aktif ikut serta dalam latihan akan dimaksimalkan jika pelatih secara periodik, ajeg mendiskusikan kemajuan atletnya bersama-sama dengannya.

  1. Prinsip Perkembangan Multilateral (multilateral development)

Pendapat (Bompa, 1994) diungkapkan bahwa perkembangan multilateral berbagai unsur  lambat laun saling bergantung antara seluruh organ dan sistem manusia, serta antara proses fisiologis dan psikologis. Suatu latihan, memperhatikan pembawaan dan kebutuhan gerak selalu memerlukan keselarasan beberapa sistem, semua macam kemampuan gerak, dan sifat psikologis. Akibatnya, pada awal tingkat latihan atlet, pelatih harus memperhatikan pendekatan langsung ke arah perkembangan fungsional yang cocok dengan  tubuh.

  1. Prinsip Pulih Asal (recovery)

Dalam program latihan apabila tidak memperhatikan waktu pemulihan yang cukup, maka atlet akan mengalami kelelahan yang luar biasa dan berakibat pada sangat menurunnya penampilan. Jika pelatih tetap memaksa memberi latihan tanpa memberi jeda untuk beristirahat maka akan terjadi kelelahan hebat (overtraining) atau terjadinya cedera.

Program latihan sebaiknya disusun berselang-seling antara latihan berat dan latihan ringan. Latihan berat hanya dua hari sekali diselingi dengan latihan ringan. Pendapat (Rushall and Pyke, 1990) dikemukakan bahwa faktor paling penting yang mempengaruhi status kesehatan atlet adalah pemilihan rangsangan beban bertambah dengan waktu pulih asal yang cukup diantara setiap melakukan latihan.

  1. Prinsip Reversibilitas (reversibility)

(Kent, 1994) menjelaskan bahwa prinsip dasar yang menunjuk pada hilangnya secara pelan-pelan pengaruh latihan jika intensitas, lama latihan dan frekuensi dikurangi. (Rushall and Pyke, 1990) menjelaskan bahwa jika waktu pulih asal diperpanjang yaitu  hasil yang  telah diperoleh selama latihan akan kembali ke asal seperti sebelum latihan jika tidak dipelihara. Oleh sebab itu tetap menjaga kondisi fisik pada saat diluar jam latihan sangatlah penting untuk menghindari hal tersebut.

  1. Menghindari Beban Latihan Berlebihan (Overtraining)

(Suharno, 1993) mengemukakan jika latihan dilakukan berlebihan atau overtraining dapat mengakibatkan menurunnya  penampilan dan prestasi atlet. Penyebab terjadinya  overtraining  antara lain sebagai berikut: 1) atlet diberikan beban berlebih secara terus menerus tanpa ada waktu jeda untuk istirahat. 2) Pemberian proporsi latihan dari ekstensif ke intensif  secara  tidak tepat. 3) Atlet terlalu banyak mengikuti pertandingan-pertandingan berat dengan jadwal yang  padat. 4) Beban latihan diberikan dengan cara beban melompat.

Tanda-tanda terjadinya  overtraining  pada seorang atlet,  dilihat dari segi semantis antara lain berat badan menurun, wajah pucat, nafsu makan berkurang, banyak minum dan sukar tidur. Tanda–tanda dilihat dari kemampuan gerak, prestasi menurun, sering berbuat kesalahan gerak, koordinasi gerak dan keseimbangan menurun, tendo-tendo dan otot-otot terasa sakit (Suharno, 1993).

  1. Prinsip Proses Latihan menggunakan Model

Tujuan menggunakan suatu  model adalah untuk memperoleh sesuatu yang idea, dan meskipun keadaan abstrak idea  tersebut di atas adalah kenyataan konkrit, tetapi juga menggambarkan sesuatu yang diusahakan untuk dicapai, suatu peristiwa yang akan dapat diwujudkan. Sehingga  penggunaan suatu model adalah merupakan gambaran abstrak gerak seseorang pada waktu tertentu (Bompa, 1994).

Suatu model mempunyai kekhususan untuk setiap perorangan atau tim. Pelatih atau atlet akan menghadapi tantangan umum meniru model latihan untuk keberhasilan atlet atau tim. Suatu model latihan akan memperhatikan beberapa faktor lain, potensi psikologis dan fisiologis atlet, fasilitas, dan lingkungan sosial. Setiap cabang olahraga pasti mempunyai model teknik yang digunakan pada saat pertandingan. Model teknik tersebut disesuaikan dengan kenyamanan atlet pada saat melakukan teknik tersebut dan disesuaikan dengan anatomis dan fisiologis dari atlet masing-masing.

Komponen-Komponen Latihan

Jika seorang pelatih merencanakan suatu program latihan, harus memperhatikan komponen-komponen sebagai berikut:

  1. Volume

Menurut (Bompa, 1994) volume latihan merupakan komponen penting dalam latihan yang menjadi syarat yang diperlukan untuk mencapai kemampuan teknik, taktik dan khususnya kemampuan fisik. Volume latihan dapat diwujudkan berupa kesatuan dari bagian-bagian waktu atau lamanya latihan, jarak tempuh  atau berat beban per unit waktu, jumlah ulangan (repetisi) suatu  latihan atau melaksanakan bagian teknik dalam tempo tertentu.

  1. Intensitas

Intensitas latihan merupakan  komponen yang  penting yang menunjuk pada kualitas pelaksanaan kerja dalam periode waktu tertentu. Intensitas  latihan dapat diindikatorkan oleh kecepatan (waktu), besarnya atau jumlah beban latihan, tempo atau waktu permainan dan dapat juga berupa frekuensi gerakan (Bompa, 1994).

  1. Densitas

(Bompa, 1994) mengemukakan densitas latihan dapat diartikan sebagai seringnya mengulang-ulang gerakan latihan yang dilakukan pada setiap seri latihan atau bagian latihan sesuai dengan masa recovery yang diberikan.

  1. Frekuensi

Menurut (Suharno, 1993) frekuensi adalah jumlah berapa kali latihan dalam satu minggu. (Fox, Bowers dan Foss, 1993) menjelaskan frekuensi latihan harus tiga hingga lima hari per minggu. Saran ini berdasarkan pada penemuan  bahwa peserta  latihan  menjadi  baik kebugaran  jasmaninya  jika mereka latihan satu  hari per minggu tetapi akan menjadi lebih baik jika mereka latihan  tiga hingga lima  hari per minggu.  Latihan  harus cukup keras sehingga   target heart rate (THR) mencapai antara 60% hingga 90% dari maximum  heart rate reserve  (HRR) atau  metabolisme mencapai 50% hingga 80% dari konsumsi oksigen maksimum.

  1. Irama

Tinggi atau rendahnya tempo dalam melakukan program latihan atau bisa diartikan ringan atau beratnya latihan dalam satu macam latihan, latihan tahunan, bulanan, ataupun mingguan (Suharno, 1993)

  1. Durasi

(Suharno, 1993) menjelaskan durasi ialah seberapa lama waktu yang dipergunakan dalam melakukan latihan, waktu latihan dikurangi dengan waktu yang digunakan untuk istirahat.

  1. Recovery

Recovery bisa disebut waktu yang digunakan untuk memulihkan tenaga setelah melakukan latihan atau waktu beristirahat dari jenis latihan yang satu dengan latihan yang lain (Suharno, 1993).

  1. Interval

Latihan interval adalah bentuk latihan yang diulang-ulang dan setiap sudah melakukan satu kali bentuk latihan akan diselingi dengan istirahat. Interval adalah waktu beristirahat yang diberikan antar seri, sirkuit, atau antar sesi dalam satu macam latihan.

  1. Set

Set adalah jumlah ulangan untuk satu macam latihan. Set bisa disebut rangkaian interval kerja dan istirahat. Contohnya, ketika atlet selesai melakukan sit up 5 kali (5 repetisi) lalu istirahat, berarti sudah 1 set. Satu menit kemudian, lanjut 5 kali (5 repetisi) sit up lagi, berarti sudah 2 set. Dapat disimpulkan set adalah rangkaian dari repetisi.

  1. Repetisi

Repetisi adalah banyaknya jumlah dalam satu set. Jumlah ulangan yang dilakukan untuk tiap butir latihan (beberapa jenis).

  1. Seri atau sirkuit

Penyelesaian dari rangkaian latihan yang berbeda. Maksudnya adalah dalam satu kali sirkuit terdiri dari lebih dari satu macam latihan yang seluruhnya harus terselesaikan dalam satu rangkaian tersebut.

  1. Sesi

Sesi yaitu suatu program latihan yang harus terselesaikan dalam sekali tatap muka.

Latihan Pembentukan Fisik Umum

Pembentukan fisik sangat dibutuhkan dan merupakan faktor penting dalam pelaksanaan latihan yang mempunyai tujuan untuk mencapai kemampuan yang tinggi. Kemampuan fisik sifatnya mudah untuk berubah atau labil, jika tidak terus dilatih kemampuan fisik akan mengalami penurunan, sebaliknya jika kondisi fisik rutin dilatih secara terus-menerus maka kemampuan fisik akan semakin kuat (budiwanto : 2012). Agar pembentukan fisik bisa tercapai sesuai dengan yang diinginkan maka latihan harus dilakukan dengan rutin dan teratur. Untuk memperoleh peningkatan kemampuan atlet, maka proses latihan harus terencana dan tersusun dalam suatu program latihan baik jangka pendek, menengah, maupun jangka panjang.

Tujuan pembentukan fisik umum dengan fokus kekhususan dalam cabang olahraga ialah untuk meningkatkan performa atlet. Dengan performa yang lebih tinggi, maka tubuh lebih muda beradaptasi dengan bertambahnya tuntutan fisik dan psikis pada saat melakukan latihan selanjutnya. Begitu pula dengan semakin kerasnya pembentukan fisik umum maka lebih tinggi tingkat kemampuan gerak yang harus dicapai. Pembentukan fisik sangat dibutuhkan untuk atlet, dititik beratkan pada potensi fisik, untuk atlet pemula, pembentukan fisik umum pendekatannya sama dengan atlet tingkat lanjut meskipun kurang memfokuskan pada cabang olahraga. Untuk atlet tingkat lanjut dapat dikaitkan dengan kekhususan yang dibutuhkan dalam cabang olahraga yang ditekuni, dan juga ciri-ciri dari berbagai individu (bompa : 1994).

Sasaran yang harus dicapai dalam program latihan fisik umum adalah kesegaran jasmani. Kesegaran jasmani adalah kemampuan seseorang untuk bekerja secara efektif, menikmati waktu luang, menjadi sehat atau bugar, mencegah penyakit dan mengatasi keadaan darurat (kent : 1994). Unsur-unsur yang membentuk kesegaran jasmani menurut (golding dan bos : 1968) adalah kekuatan, daya tahan otot, daya tahan kardiovaskular, kecepatan, kelincahan, power, kelenturan dan kelentukan, keseimbangan, ketepatan, dan koordinasi. Berikut dijelaskan unsur-unsur yang membentuk kesegaran jasmani sebagai berikut:

  1. Kekuatan, suatu kemampuan memanfaatkan kegunaan otot pada saat terjadi kontraksi pengangkatan beban di saat aktivitas.
  2. Daya tahan otot, kemampuan mempertahankan daya kontraksi otot secara berkelanjutan dalam waktu yang relatif cukup lama ditambah dengan beban tertentu.
  3. Daya tahan kardiovaskuler, mampu dalam menguasai atau mengontrol dalam penggunaan secara efisien detak jantung dan gerak kapasitas paru-paru.
  4. Kecepatan, kemampuan mengerjakan gerakan keseimbangan dalam bentuk yang sama dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.
  5. Kelincahan, kemampuan untuk mengubah posisi di area tertentu.
  6. Power, mampu untuk mengakomodasikan kekuatan secara maksimal dalam waktu yang singkat.
  7. Kelentukan, adalah keefektivitasan untuk penyelesaian diri dalam berbagai aktivitas dengan pengukuran tubuh yang meluas.
  8. Keseimbangan, keahlian untuk menjaga agar mampu mempertahankan posisi dari berbagai gerakan.
  9. Ketepatan, adalah kemampuan seseorang untuk mengendalikan gerakan bebas terhadap sasaran.
  10. Koordinasi, keahlian dalam melakukan gerakan yang bermacam-macam akan tetapi masih dalam satu gerakan secara efektif.