Teori Aktifitas Fisik Anak

Teori Aktifitas Fisik Anak

A. ANAK USIA DINI

Usia dini yang lazim diartikan pada kisaran 0-8 tahun dimana pada usia tersebut merupakan suatu hal yang sangat menentukan dalam pembentukan karakter dan pengembangan intelegensi seorang anak. Tujuan utama dari pendidikan usia dini adalah memfasilitasi pertumbuhan dan perkembangan anak sejak awal yang meliputi aspek fisik, psikis, dan sosial secara menyeluruh. Seperti dikemukakan oleh Rahman (2005:6) bahwa secara umum tujuan diberikannya program pendidikan usia dini yaitu untuk memfasilitasi pertumbuhan dan perkembangan anak secara optimal dan meyeluruh dan tetap memperhatikan norma-norma dan nilai kehidupan yang dianut. Melalui program pendidikan yang dirancang dengan baik, diharapkan anak mampu mengembangkan semua potensi yang dimiliki mulai dari aspek fisik, sosial, moral, emosi, kepribadian dan lain-lain. Dengan begitu anak diharapkan lebih siap untuk belajar lebih lanjut. Tidak hanya belajar secara akademik di sekolah, melainkan juga sosial, emosional, dan moral di semua lingkungan. (Hermawan, 2011)

Secara operasional, praktik pendidikan usia dini alangkah baiknya berpusat pada kebutuhan anak, yaitu pendidikan yang berdasarkan pada minat, kebutuhan, dan kemampuan anak. Oleh karena itu, peran pendidik sangatlah penting. Pendidik dituntut untuk mampu memfasilitasi aktivitas anak dengan material yang beragam dan bervariasi. Pengertian pendidik dalam hal ini tidak hanya terbatas pada guru saja, tetapi juga peran orangtua dan lingkungan. Seorang anak membutuhkan lingkungan yang kondusif untuk tumbuh dan berkembang dengan baik. Program latihan anak harus sesuai dengan karakter perkembangan anak yang masih dalam tahap bermain. Rancangan program latihan anak harus disusun secara multilateral supaya anak memiliki kemampuan yang beraneka ragam walaupun nantinya hanya disalurkan pada salah satu cabang olahraga tertentu. (Hermawan, 2011)

1. Pengertian Anak Usia Dini

            Ada berbagai macam pendapat mengenai hal ini. Batasan tentang anak usia dini antara lain disampaikan oleh NAEYC (National Association for The Education of Young Children), yang mengatakan bahwa anak usia dini adalah anak yang berada pada rentang usia 0-8 tahun, yang tercakup dalam program pendidikan di taman penitipan anak, penitipan anak pada keluarga (family child care home), pendidikan prasekolah baik swasta ataupun negeri, TK, dan SD (NAEYC, 1992). Sedangkan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 1 ayat 14 menyatakan bahwa pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani supaya anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut (Depdiknas, 2003). Sementara itu, UNESCO dengan persetujuan negara-negara anggotanya membagi jenjang pendidikan menjadi 7 jenjang yang disebut International Standard Classification of Education (ISDEC). Dalam implementasinya di beberapa negara, pendidikan usia dini menurut UNESCO ini tidak harus dilaksanakan sama seperti kategori usianya. Di beberapa negara dijumpai ada yang memulai pendidikan prasekolah lebih awal yaitu pada usia 2 tahun, dan beberapa negara lain mengakhirinya pada usia 6 tahun. Bahkan ada juga negara lain yang memasukkan pendidikan dasar dalam jenjang pendidikan anak usia dini. (Amini, n.d.)

2. Karakteristik Anak Usia 4-6 Tahun

            Anak usia dini adalah individu yang sedang mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat. Menurut Rahman (2005 : 33-37) karakteristik anak usia 4-6 tahun diuraikan sebagai berikut:

  1. Berkaitan dengan perkembangan fisik, anak sangat aktif melakukan berbagai kegiatan. Hal tersebut dapat memberikan dampak baik untuk mengembangkan otot-otot kecil maupun besar.
  2. Perkembangan bahasa semakin baik. Anak mampu memahami pembicaraan orang lain dan mampu mengungkapkan pikiran dalam batas-batas tertentu.
  3. Perkembangan kognitif (daya pikir) sangat pesat, terlihat rasa ingin tahu anak yang luar biasa terhadap lingkungan sekitar. Hal ini dapat diamati dari seringnya anak menanyakan segala sesuatu yang dilihat.
  4. Bentuk permainan masih bersifat individu, bukan permainan sosial walaupun aktivitas bermain dilakukan secara bersama. (Hermawan, 2011)

B. AKTIVITAS FISIK

Aktivitas fisik diartikan sebagai aktivitas gerakan tubuh yang dihasilkan oleh otot-otot skeletal dan menghasilkan peningkatan resting energy expenditure yang bermakna. Aktivitas fisik juga dapat diartikan sebagai suatu gerakan fisik yang menyebabkan terjadinya kontraksi otot. Aktivitas fisik yang dilakukan oleh anak sangat penting untuk kesehatan dan perkembangan serta menurunkan risiko untuk terjadi kelebihan berat  badan (overweight), obesitas maupun penyakit-penyakit lain yang disebabkan oleh berat badan yang berlebih. Aktivitas fisik pada anak bisa berupa aktivitas sehari-hari baik di rumah maupun di sekolah, kebiasaan, hobi maupun latihan fisik dan olahraga. Untuk memenuhi kebutuhan aktivitas fisik anak, maka baik orangtua maupun guru di sekolah dituntut untuk menyediakan aktivitas fisik yang terstruktur maupun tidak terstruktur. (Anggraini et al., 2014)

Penting bagi anak usia dini untuk menggunakan waktunya dengan kegiatan yang aktif, paling tidak 30 menit untuk kegiatan terstruktur dan 60 menit untuk kegiatan yang tidak terstrukur seperti bermain di taman terbuka. Aktivitas fisik untuk anak usia dini seharusnya menyenangkan, menarik, serta dapat melatih perkembangan dan pertumbuhan pada anak. Suatu data menunjukkan bahwa aktivitas fisik pada anak-anak cenderung menurun. Anak-anak lebih banyak bermain didalam rumah dibandingkan diluar rumah, misalnya bermain games menggunakan media elektronik, menonton televisi yang membahas acara maupun film anak, disamping iklan makanan yang mempengaruhi peningkatan konsumsi makanan manis-manis atau “camilan”. Kejadian tersebut dapat meningkatkan risiko obesitas pada anak. (Anggraini et al., 2014)

1. Pengertian Aktivitas Fisik

            Steve Stork dan Stephen W. Sanders (2008: 197-199) Aktivitas fisik sangat penting untuk pertumbuhan dan perkembangan secara keseluruhan pada anak. Mengoptimalkan penguasaan keterampilan dan sikap yang dapat menghasilkan perilaku yang lebih sehat dalam hidup, dan juga memfasilitasi perkembangan kognitif dan sosial, perkembangan fisiologis yang unik dan pengembangan neurologis terhadap anak. Penelitian tentang kejadian aktivitas fisik kalangan anak-anak menunjukkan asumsi bahwa, sebagai anak-anak, mereka menciptakan gerak mereka sendiri. Demikian juga, orang tua atau pengasuh tampaknya berasumsi kalau aktivitas fisik disediakan melalui kegiatan bermain diberbagai tempat, sebagai perkembangan motorik kasar dan halus anak, serta aktivitas tersebut memberi stimulus pertumbuhan besaran-otot anak, sebagai kesiapan usia remaja.  (Burhaein, 2017)

            Cara membimbing anak-anak supaya aktif secara fisik untuk seumur hidup, aktivitas fisik melalui pengalaman pendidikan pada anak usia dini menutut Steve Stork dan Stephen W. Sanders, 2008:202-206  harus meliputi (a) belajar dari perkembangan keterampilan yang sesuai, (b) personil terlatih dalam praktik pembelajaran yang tepat untuk kegiatan fisik, (c) promosi lingkungan aktivitas fisik yang positif dan aman, termasuk peralatan ukuran anak-anak, dan (d) kurikulum inklusif didasarkan pada pemahaman konsep gerakan dan tema keterampilan (Burhaein, 2017)

2. Perkembangan Fisik Anak

Konsep literasi fisik yang didefinisikan oleh Whitehead sebagai ‘motivasi, kepercayaan diri, kompetensi fisik, pengetahuan dan pemahaman untuk menghargai dan bertanggung jawab atas keterlibatan dalam aktivitas fisik seumur hidup’ (Whitehead 2016). Lingkungan luar ruangan sangat dikenal sebagai sumber berharga untuk pembelajaran anak-anak (Maynard dan Waters 2007 ; Waite 2010 ) dengan penelitiannya yang berfokus pada pembelajaran di lingkungan alam yang menunjukkan peningkatan aktivitas fisik (Mygind 2007 ) dan perkembangan motorik yang lebih baik (Fjørtoft 2004 ). Maude (2010) menunjukkan bahwa ada banyak bukti dan manfaat bermain di dalam dan di luar ruangan memberikan kesempatan bagi anak-anak untuk mengembangkan kesadaran dan pemahaman tentang dimensi yang mereka wujudkan. Broadhead ( 2004, 89) menjelaskan, bagi anak-anak, interaksi dengan lingkungan melalui permainan adalah ‘eksplorasi holistik tentang siapa dan apa mereka dan tahu’ dan bagaimana mereka mengeksplorasi siapa dan apa mereka nantinya. Pemahaman tentang permainan ini sejalan dengan perspektif filosofis monis tentang ‘memandang orang sebagai keseluruhan yang tak terpisahkan’, yang merupakan ‘fundamental bagi apresiasi konsep literasi fisik’ (Whitehead 2010 , 22).

Meskipun literasi fisik jauh lebih luas daripada atribut kompetensi fisik, literatur dari bidang perkembangan motorik dan kesehatan menyoroti pentingnya anak usia dini untuk meletakkan dasar-dasar perkembangan fisik dan kompetensi fisik yang diperlukan untuk keterlibatan di kemudian hari dalam aktivitas fisik dan olahraga yang lebih terstruktur. (Barnett et al. 2009 ; Barnett et al. 2016 ; Clark dan Metcalf 2002 ;. Stodden et al 2008 ). Meskipun terdapat beberapa bukti bahwa bermain di lingkungan alam akan mengembangkan kompetensi fisik, namun terdapat kesalahpahaman bahwa hanya dengan bermain, kompetensi fisik akan muncul secara alami. Agar anak-anak menyadari potensi penuh dari kosakata gerakan mereka, mereka membutuhkan peluang terstruktur yang sesuai dengan perkembangan dengan umpan balik yang diinformasikan (Altunsöz dan Goodway 2015 ; Goodway dan Branta 2003; Maude 2010 ).

3. Manfaat Aktivitas Fisik Anak

Aktivitas fisik yang teratur memiliki banyak manfaat untuk anak-anak  usia dini. Manfaatnya dapat berupa :

  1. Perkembangan kekuatan dan ketahanan dari otot
  2. Membangun dan meningkatkan kepercayaan diri
  3. Meningkatkan stabilitas tubuh dan kemampuan berpikir
  4. Membangun kekuatan otot, jantung dan tulang
  5. Mengembangkan keterampilan untuk mengontrol objek tertentu
  6. Mengembangkan keterampilan motorik halus dan motorik kasar
  7. Mengembangkan pengenalan terhadap benda, warna dan bentuk
  8. Mengembangkan ketahanan dalam sistem kardiovaskular

Aktivitas fisik pada anak-anak usia dini dipengaruhi oleh berbagai hal, diantaranya adalah faktor fisiologis atau perkembangan, lingkungan, faktor psikologis, faktor sosial, dan demografi. (Anggraini et al., 2014)

 

C. MODEL AKTIVITAS FISIK 

Model aktivitas fisik dimaknai sebagai sebuah prosedur atau langkah demi langkah yang harus dilakukan sehingga muncul model aktivitas fisik yang spesifik sesuai dengan tujuan dari aktivitas fisik yang ingin dicapai. Dalam kegiatan aktivitas fisik, model aktivitas fisik memiliki fungsi yang sangat fundamental yakni sebagai perencanaan untuk merancang program aktivitas fisik.

1. Circuit Training

Circuit training merupakan suatu progam yang diciptakan oleh R.E Morgan G.T Anderson pada tahun 1953, dalam latihan ini terdapat beberapa stasiun atau pos-pos aktivitas fisik yang dapat dikombinasikan ataupun dipadukan sebagai suatu rangkaian variasi gerakan dari circuit training gerakan-gerakan tersebut dapat berupa gerak dasar lokomotor, non lokomotor, dan manipulatif. Circuit training dapat digunakan sebagai referensi untuk memberikan aktivitas fisik pada anak karena memiliki gerakan yang berbeda ditiap pos-posnya sehingga anak tidak jenuh dan merasa senang ketika melakukan aktivitas fisik.

2. Variasi Aktivitas Fisik

Variasi aktivitas fisik menurut Harsono (2015:12) dapat mencegah kebosanan pada anak akibat melakukan aktivitas fisik, dalam proses aktivitas fisik harus menerapkan variasi-variasi yang kreatif dan inovatif untuk mencegah timbulnya kebosanan yang dirasakan oleh anak. Sedangkan menurut Bompa (2009:48) variasi adalah satu dari komponen kunci yang diperlukan untuk merangsang penyesuaian pada respon aktivitas. Jadi dapat disimpulkan bahwa variasi aktivitas fisik dapat berguna untuk mencegah kebosanan pada anak akibat melakukan aktivitas fisik dan variasi aktivitas fisik juga akan berpengaruh penting untuk tumbuh kembang anak.

3. Rancangan Aktivitas Fisik

Program adalah rancangan mengenai asas-asas (dasar cita-cita) serta usaha-usaha yang akan dijalankan (Depdikbud, 1989). Aktivitas fisik didefinisikan sebagai “setiap gerakan tubuh yang dihasilkan oleh otot rangka yang menghasilkan pengeluaran energi” (Meeks, Heit, & Page, 2013, hlm. 240). Rancangan aktivitas fisik itu sendiri disusun sesuai karakteristik anak yang masih pada taraf bermain sehingga dapat menyenangkan bagi kebanyakan anak.

4. Evaluasi Aktivitas Fisik

Evaluasi adalah mengukur kemampuan fungsi-onal maksimal yang dimiliki seseorang pada saat dilakukan pengukuran. Kemampuan fungsional diukur dari besaran kemampuan gerak yang dapat dilakukan. Besaran kemampuan gerak ditentukan oleh kemampuan tubuh menghasilkan daya (energi).

 

D. JENIS – JENIS AKTIVITAS FISIK ANAK 

Aktivitas fisik yang dapat dilakukan pada anak umur prasekolah yaitu berupa aktivitas fisik untuk meningkatkan keterampilan dasar, aktivitas fisik dengan bernyanyi dan gerakan, aktivitas untuk keseimbangan, keterampilan manipulatif, serta keterampilan untuk melatih kemampuan lokomotor. (Anggraini et al., 2014)

1. Aktivitas Fisik Untuk Keterampilan Dasar

Aktivitas untuk meningkatkan keterampilan dasar dapat berupa berlari dan berjalan mengejar teman sebayanya, mengejar bola, hide-n-seek yaitu permainan dengan menyembunyikan benda, kemudian anak diperintahkan untuk mencari atau anak diperintahkan untuk mencari temannya yang sedang bersembunyi atau sering disebut petak umpet. Cara melatih kemampuan dasar, juga dapat dilakukan permainan meniup balon kemudian anak diperintahkan untuk mengejar balon tersebut. Selain itu, juga dapat dilakukan permainan menendang bola-bola air dan melempar bola air pada tempat tertentu. (AnggSraini et al., 2014)

  

2. Aktivitas Fisik Dengan bernyanyi Dan Bergerak

Pada permainan ini, anak aktif bergerak sambil bersenang-senang dengan bernyanyi diiringi musik. Anak dapat berlari, melompat dan menggerakan seluruh anggota gerak tubuhnya. Bernyanyi pun, anak dapat melatih kerjasama, melatih kelenturan tubuh serta dapat mengenali musik sejak usia dini. (Anggraini et al., 2014)

 

3. Aktivitas Fisik Untuk Melatih Keseimbangan

Untuk melatih keseimbangan, dapat dilakukan permainan dengan duduk di bola besar dan bertahan agar anak tidak terjatuh. Keseimbangan dapat pula dilakukan dengan permainan ayunan, yang dapat disertai dengan musik. Anak juga dapat bermain untuk mengambil benda-benda yang berada dibawah seperti daun gugur maupun benda apapun, sehingga dapat melatih keseimbangan dari anak. (Anggraini et al., 2014)

4. Aktivitas Fisik Untuk Melatih Keterampilan Lokomotor

Melatih kemampuan lokomotor atau kemampuan motorik dapat dilakukan dengan permainan merangkak, berjalan diatas susunan-susunan benda yang sudah diatur, seperti berjalan diatas tumpukan daun-daun, berjalan diatas bola-bola plastik, berjalan diatas pasir, berjalan diatas air, berjalan diatas lumpur atau tanah, atau dapat diberikan tumpukan es yang berukuran kecil. Anak diajarkan untuk merasakan tekstur dari bahan-bahan yang sudah disediakan. Kemampuan lokomotor dapat membiasakan anak untuk melakukan gerakan pada anggota tubuhnya. (Anggraini et al., 2014)

5. Aktivitas Fisik Untuk Melatih Kemampuan Manipulatif

Permainan untuk melatih kemampuan manipulatif dapat berfungsi untuk meningkatkan koordinasi antara mata, tangan dan kaki. Permainan dapat seperti menendang bola pada titik tertentu dengan menggunakan kedua kaki secara bergantian, sehingga dapat melatih koordinasi antara mata dan kaki agar dapat menuju pada titik tersebut. Cara melatih kemampuan manipulatif dapat dilakukan juga dengan mengejar balon-balon air kemudian menepuk atau menusuk balon tersebut dengan jari. Permainan lain yang dapat dilakukan adalah anak diarahkan untuk berjalan diruang-ruang remang, kemudian dengan menggunakan senter kita menggerak-gerakan cahaya senter di dinding ke atas, bawah, kanan dan kiri, anak mengikuti atau mengejar cahaya senter yang kita gerak-gerakan. (Anggraini et al., 2014)

E. KONSEP AKTIVITAS FISIK ANAK USIA 4-6 TAHUN 

Konsep dasar dari program latihan yang baik untuk anak usia dini adalah multilateral dan permainan. Oleh karena itu berbagai kegiatan olahraga harus diperkenalkan agar anak memiliki kemampuan fisik secara menyeluruh. Aspek latihan yang perlu dikembangkan pada anak adalah keterampilan (teknik) gerak dasar yang benar dengan kemampuan fisik dasar yang baik. (Hermawan, 2011)

1. Multilateral

Aktivitas olahraga yang baik untuk anak usia dini mempunyai karakteristik (1) memberi bermacam-macam pengalaman gerak (multilateral training) dalam bentuk  permainan  atau  perlombaan;  (2) memberi rangsangan  perkembangan  seluruh  panca  indra; (3) mengembangkan imajinasi/fantasi; dan (4) bergerak mengikuti suara irama/lagu atau cerita. Namun demikian, dari karakteristik olahraga untuk anak usia dini tersebut sebaiknya dikemas dalam bentuk permainan/perlombaan agar anak merasa tertarik dan mendapatkan kesenangan. Berkaitan dengan multilateral Bompa (2000) mengemukakan yaitu: “Pembinaan multilateral adalah pengembangan berbagai variasi keterampilan dan kemampuan biomotorik dengan adaptasi berbagai kebutuhan beban dalam gerak untuk pengembangan menyeluruh”. Setiap anak harus melaksanakan pengembangan berbagai keterampilan baik dari sisi kemampuan dasar motorik maupun gerak dasar keterampilan. Kemampuan dasar motorik meliputi gerak lokomotor, non-lokomotor dan manipulatif. (Mamesah et al., 2019)

2. Bermain

Bermain adalah kegiatan yang dilakukan oleh anak-anak sepanjang hari karena baginya bermain adalah hidup dan hidup adalah permainan (Mayesty, 1990:196-197). Anak usia dini tidak bisa membedakan antara bermain, belajar dan bekerja. Anak-anak umumnya sangat menikmati permainan dan akan terus melakukannya dimanapun mereka memiliki kesempatan. Piaget dalam Mayesty (1990:42) mengatakan bahwa bermain adalah suatu kegiatan yang dilakukan berulang-ulang dan menimbulkan kesenangan/kepuasan bagi diri seseorang; sedangkan Parten dalam Dockett dan Fleer (2000:14) memandang kegiatan bermain sebagai sarana sosialisasi, diharapkan melalui bermain dapat memberi kesempatan anak bereksplorasi, menemukan, mengekspresikan perasaan, berkreasi, dan belajar secara menyenangkan. Selain itu, kegiatan bermain dapat membantu anak mengetahui tentang diri sendiri, dengan siapa dia hidup serta lingkungan tempat dimana dia hidup. Selanjutnya Dockett dan Fleer (2000:41-44) berpendapat bahwa bermain merupakan kebutuhan anak, karena melalui bermain anak akan mendapatkan pengetahuan yang dapat mengembangkan kemampuan dirinya.

Bermain merupakan suatu aktivitas yang khas dan sangat berbeda dengan aktivitas lain seperti belajar dan bekerja yang selalu dilakukan dalam rangka mencapai hasil akhir. Berdasarkan pendapat dari beberapa para ahli tentang definisi bermain, dapat disimpulkan bahwa bermain merupakan suatu aktivitas yang dapat merangsang kreativitas serta daya fikir anak secara optimal tanpa anak tersebut dipaksa untuk melakukannya. Kegiatan bermain bagi anak-anak dapat memberi pelajaran atau pengalaman bagaimana beradaptasi baik itu dengan lingkungan, orang lain, maupun dengan dirinya sendiri. Dalam kegiatan bermain anak-anak tidak sungguh- sungguh, melainkan bertindak sesuai perannya, akan tetapi walaupun demikian bermain merupakan suatu hal yang serius bagi mereka (Yuliani, 2013).

Alat permainan yang dianjurkan untuk anak usia 4-6 tahun menurut (Padmono S. Dikutip dari Titi S. 1993) yaitu: 1. Berbagai benda dari sekitar rumah, buku bergambar, majalah anak-anak, alat gambar dan tulis, kertas untuk belajar melipat, gunting, air, dan lainnya, 2. Teman-teman bermain: teman sebaya, orangtua, orang lain di luar rumah (Soetjiningsih, 2012).

Kegiatan bermain mengandung unsur: (1) menyenangkan dan menarik bagi anak, anak menikmati aktivitas bermain tersebu, mereka tampak riang dan gembira, (2) keinginan untuk bermain muncul dari anak tidak paksaan orang lain, (3) anak melakukan secara spontan dan suka rela, anak tidak merasa diwajibkan, (4) semua anak ikut serta secara bersama-sama sesuai peran masing-masing, (5) anak berlaku pura-pura, misalnya anak pura-pura marah atau menangis, (6) anak menentukan aturan permainannya sendiri, baik aturan yang diadopsi dari orang lain maupun aturan yang baru, aturan main itu dipatuhi oleh semua peserta bermain, (7) anak berlaku aktif, mereka melompat atau menggerakan tubuh, tangan dan  tidak sekedar melihat, (8) anak bebas memilih mau bermain apa dan beralih ke kegiatan bermain lain, bermain bersifat fleksibel. (Bermain, 2014)

 

Sumber :

https://www.researchgate.net/publication/322821732_Aktivitas_Fisik_Olahraga_untuk_Pertumbuhan_dan_Perkembangan_Siswa_SD

http://staffnew.uny.ac.id/upload/132326894/penelitian/MULTILATERAL+KONSEP+DAN+APLIKASI+OLAHRAGA+ANAK+USIA+DINI,.pdf

https://www.tandfonline.com/doi/abs/10.1080/17408989.2018.1455819?casa_token=kCVKM3guiiAAAAAA:AvsaYg_V151504xtK0LOkOgfUXY0enR4WbfNu7ZV8W-TYwl_5yJeLVddZYLyCEmb5OYp56ytq8lwWDvv

http://repository.ut.ac.id/4707/1/PAUD4306-M1.pdf

https://media.neliti.com/media/publications/115667-ID-none.pdf

http://jurnal.unismabekasi.ac.id/index.php/motion/article/download/1792/1512/