Perkuliahan Online Sesuai Dengan Kebutuhan Atlet Elit Mahasiswa

0 Comments

            Mahasiswa-atlet memiliki tuntutan yang berat, yang menguras waktu dan energi mereka. Hal tersebut menempatkan mereka pada posisi yang kurang menguntungkan dibandingkan dengan mahasiswa non atlet karena adanya latihan yang intens dan kesulitan untuk menyeimbangkan antara tuntutan akademik dan prestasi. Akibatnya, keadaan tersebut memerlukan solusi untuk memperbaiki atau mengurangi efek negative pada mahasiswa-atlet, misalnya stress, kegagalan akaemik, hingga berhentinya karier atlet di usia produktif (Kreb, 2008). Salah satu untuk masalah ini adalah dengan perkuliahan online yang semakin popular di institusi Pendidikan tinggi. Mahasiswa-atlet yang harus tinggal di asrama atlet di luar kota, sering bepergian untuk berkompetisi tetap mendapat kesempatan untuk belajar, sehingga mereka tetap mampu menyeimbangkan prioritas antara prestasi olahraga dan tantangan akademik.

            Pemahaman skolastik mahasiswa-atlet yang diukur dengan pestasi akademik merupakan bidang perhatian utama bagi administrator perguruan tinggi dan universitas (Hamilton, 2007). Misalnya, National Collegiate Athletic Association (NCAA) dan NAIA mendukung dan mendanai program akademik khusus yang dirancang untuk meningkatkan keberhasilan akademik mahasiswa-atlet. Sebagian besar perguruan tinggi di Amerika Serikat dan Eropa telah mengorganisir dan mewajibkan mahasiswa-atlet mereka untuk mengikuti kursus-kursus yang disedain khusus untuk mereka, misalnya tentang kebijakan universitas yang berkaitan dengan atlet-mahasiswa, pengembangan keterampilan belajar dan strategi menghadapi ujian, serta manajemen waktu untuk menetapkan tujuan dan sasaran akademik jangka pendek yang spesifik.

            Perkuliahan online (e-learning) sebenarnya telah menjadi salah satu solusi belajar bagi mahasiswa-atlet sejak tahun 2002, ketika standar Pendidikan mulai diperluas dan meninggalkan model pendidikan di kelas yang kaku.  E-learning  yang berkembang meliputi  penggunaan system manajemen pembelajaran, korespondensi email, dan papan diskusi secara jarak jauh. Secara keseluruhan, literatur mendukung perangkat digital dna teknologi sebagai strategi Pendidikan dengan hasil belajar seupa dengan Pendidikan kuliah tatap muka (tradisional). Mahasiswa-atlet memiliki pilihan dalam memilih program dan universitas yang sesuai dengan gaya belajar dan kesibukan aktivitas mereka; dan pendidik memiliki kebebasan akademik untuk menyampaikan konten pembelajaran dengana cara yang mereka rasa paling sesuai.  Hal tersebut mendukung untuk pembelajaran online dan jarak jauh untuk mahasiswa-atlet.

            Peran instruktur atau pendidik harus beradaptasi dengan perubahan zaman pembelajaran generasi Z (individu yang lahir antara 1995 dan 2010). Pembelajaran untuk generasi Z sangat menentukan, terhubung dan global karena menggunakan platform media social untuk menghubungkan individu diseluruh dunia. Baik pelajar milenial maupun geneasi Z mengharapkan umpan balik langsung karena kemampuan instan dari web. Peran sebagai pendidik adalah untuk mempengaruhi pelajar untuk mengadopsi daa memastikan platform yang diperlukan untuk individu pada abad ke-21 ini.

References

Hamilton, K. (2007). Putting the “student”back into the student-athlete: In an effort to improve retention and graduation rates, the NCAA rolls out new rules and regulations. Black Issues in Higher Education, 2(4), 47-65.

Kreb, S. G. (2008). Gaining Gold Medals and Gowns: Equilibrating the Dual Career of Student-Athletes with Online Education. (Doctoral dissertation, Virginia Polytechnic Institute and State University.


Leave a Reply

%d bloggers like this: