Pekan Olahraga Mahasiswa ajang untuk membuktikan bahwa mahasiswa seharusnya mampu  menyeimbangkan antara kewajiban belajar dan menyalurkan bakat minat dengan cara yang baik

0 Comments

Pekan Olahraga Mahasiswa Provinsi (POMPROV), yang dahulu bernama dan dikenal dengan POMDA, akhirnya diselenggarakan secara langsung tidak lagi dengan virtual seperti tahun lalu (2021). Sejatinya pomprov ini diselenggarakan 2 tahun sekali karena menyesuaikan kalender kompetisi POMNAS (Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional), dan Pomprov ini dibawah naungan BAPOMI (Badan Pembina Olahraga Mahasiswa Indonesia). Diawal penulisan penulis sengaja memberikan sedikit informasi tentang kompetisi resmi yang tercantum di Dikti, tujuannya adalah para pembaca memahami bahwa kompetisi yang melibatkan mahasiswa dan nama Universitas tidak hanya LIMA (Liga Mahasiswa), Kejurnas dan LIFUMA (Liga Futsal Mahasiswa), kompetisi terakhir yang disebutkan yaitu LIFUMA, hanya di jabodetabek karena memang Lifuma tersebut sangat sehat dan kompetitif.

Kembali kepada topik POMPROV 2022, animo kompetisi Pomprov ini bahkan mengalahkan animo persiapan Porprov (Pekan Olahraga Provinsi) yang sejatinya tingkatannya lebih tinggi, karena akan berlanjut ke PON, hanya saja tidak banyak melibatkan anak-anak mahasiswa. Pomprov ini diikuti kurang lebih 150 Perguruan Tinggi Negeri dan Perguruan Tinggi Swasta dan mempertandingkan 14 Cabor, bagi yang kepo silahkan langsung kunjungi Instagram Officialnya BAPOMI JATIM. Pomprov tahun 2022 ini memberikan efek yang luar biasa, beberapa kampus sangat bersemangat dan akhirnya memutuskan untuk ikut berpartisipasi dalam Pomprov ini. Bagi sebagian mahasiswa mungkin juga seluruhnya, kehadiran Pomprov ini menjadi obat atau bahkan energi yang positif untuk dapat berkompetisi dengan membawa nama besar kampus masing-masing.

Saya tidak bisa banyak berkomentar terkait sistem penyelenggaraan yang dilakukan dengan multi event atau banyak cabor yang dipertandingkan, mari kita ambil positifnya saja, karena para mahasiswa ini “rindu” akan adanya kompetisi antar kampus. Berikutnya saya akan mengajak para pembaca untuk membaca opini dan sudut pandang saya dari orang yang memang awam yang tidak punya kepentingan apapun. Ada beberapa opini yang ingin saya sampaikan sebagai berikut:

  1. Pomprov ini bisa diselenggarakan setiap tahun dan tidak perlu menunggu 2 tahun sekali diselenggarakan, namun tidak masalah jika pomnas tetap diadakan 2 tahun sekali, kenapa harus diselenggarakan setiap tahun? jawabannya sederhana, regenerasi mahasiswa akan terus ada dan bakat disetiap cabor akan bermunculan, kemudian para mahasiswa yang sudah terpilih untuk kompetisi Pomnas akan lebih siap karena mereka terus berlatih dan tentunya akan bertanding.
  2. Jika memang diselenggarakan setahun sekali, maka perlu adanya perubahan sistem kompetisi atau sistem pertandingannya. jangan sampai diselenggarakan 1 minggu penuh salah satu cabor selesai. Perlu kompetisi yang panjang, Contohnya: Kompetisi bisa diselenggarakn selama 2-3 bulan, dan diselenggarakan hanya pada akhir pekan, sehingga tidak mengganggu waktu perkuliahan mahasiswa.
  3. Pomprov semestinya bisa menjadi “jembatan” atau “jalan” para mahasiswa menuju ke ranah profesional atau kompetisi profesional dimasing-masing cabor mereka, Pomprov bisa mengadopsi sistem yang dilaksanakan oleh USA dengan sebutan NCAA (National Collegiate Athletic Association), NCAA memang berafiliasi dengan tim basket profesional yaitu NBA dan akhirnya para mahasiswa yang bertanding di NCAA secara langsung dipantau dan disalurkan ke tim profesional. Kalaupun mahasiswa ini belum berhasil ke ranah profesional, mereka masih bisa menggunakan Ijazah dan ilmu yang didapat diperkuliahan untuk bisa bermanfaat di bidang selain olahraga.
  4. Memang sangat memprihatinkan kondisi kompetisi profesional di Indonesia, tetapi jika membahas masalah dan memprihatinkan, tidak akan ada obatnya di Indonesia ini, karena kondisi olahraga di Indonesia sangat memprihatinkan, yang ingin saya sampaikan adalah, ayo, para tim-tim profesional ini mulai melirik dan memperhatikan bakat-bakat mahasiswa ini, mungkin saja banyak mahasiswa ini yang mampu membela atau menjadi tambahan amunisi di tim berikutnya, maka, terjunkan dan sebarkan scouting untuk memantau bakat-bakat mahasiswa ini.
  5. Ini opini terakhir dari saya, bisa lah kampus memberikan beasiswa untuk para mahasiswa yang berprestasi di lingkungan kampus, tidak perlu sampai lulus, setidaknya ada apresiasi yang sepadan jika mereka mampu memberikan prestasi untuk kampus melalui bidang olahraga, jadi tidak hanya prestasi akademik saja yang diapresiasi akan tetapi prestasi non akademik mampu diberikan apresiasi. Jika memang ada, maka mahasiswa yang mendapatkan beasiswa jangan sampai menyia-nyiakan kesempatan itu, bukan berarti bisa berprestasi mendapatkan beasiswa sehingga lupa dengan daratan dan menjadi mahasiswa yang tak mencerminkan mahasiswa yang berprestasi.

Ini tulisan saya yang mungkin tidak bisa memberikan efek begitu besar untuk orang-orang yang mempunyai hak, pengetok palu dan pemangku  jabatan, akan tetapi tulisan saya ini bisa terbaca dengan khalayak banyak saya rasa cukup, ini hanyalah sebuah opini untuk memberikan wadah yang tepat untuk para mahasiswa ini, supaya tidak hanya berkawan dengan tugas kuliah, serta mahasiswa dapat membagi waktu latihan, berkompetisi dan belajar. Oleh: (Founder Kuantanamo Futsal Academy)


Leave a Reply

%d bloggers like this: