Manusia membutuhkan manusia lain dalam menjalani kehidupannya, sehingga terjadilah interaksi sosial antar manusia. Salah satu syarat interaksi sosial adalah adanya komunikasi. Pada abad XII, teknologi berkembang secara pesat. Hal ini memudahkan manusia dalam beraktivitas maupun berkomunikasi. Kecepatan transfer informasi menjangkau berbagai wilayah di seluruh dunia. Saat ini, komunikasi diwujudkan dalam berbagai bentuk, tidak hanya suara tapi juga berbentuk video secara live, melalui aplikasi-aplikasi canggih, hingga dikemas melalui televisi.

Hasil survei yang dilakukan Nielsen Consumer Media View pada tahun 2017 menunjukkan bahwa penonton televisi di Indonesia mencapai 96%. Selanjutnya, Kemkominfo Republik Indonesia menjelaskan pada tahun 2017, pengguna internet di Indonesia mencapai 112 juta jiwa. Angka tersebut mengalami peningkatan dibandingkan dengan tahun 2016, yaitu mencapai 102 juta jiwa. Dari hasil survei tersebut,dapat dipahami bahwa masyarakat Indonesia memiliki aktivitas yang sangat tinggi pada saat menonton televisi dan dalam menggunakan internet. Fenomena tersebut disebabkan karena masyarakat dapat menemukan berbagai informasi, hiburan, dan kemudahan komunikasi dalam acara-acara yang ada di televisi maupun di dalam jaringan internet melalui gawai atau laptop. Kemudahan tersebut didukung dengan minimnya biaya yang harus dikeluarkan dalam mengakses televisi dan internet.

Televisi sudah menjadi ‘kebutuhan pokok’ bagi masyarakat, dikarenakan kemudahan-kemudahan yang didapatkan tersebut. Hampir semua keluarga di dunia ini mempunyai televisi di rumahnya. Setiap stasiun televisi berlomba-lomba, terutama dalam menampilkan konten acara yang beragam. Jangkauan acara tersebut tidak hanya berskala nasional namun juga internasional.

Tidak hanya dampak positif yang berupa hiburan dan sumber informasi yang menampilkan kondisi dari berbagai tempat, televisi saat ini juga bisa memberikan dampak yang negatif. Menurut hasil survei yang dilakukan oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) pada tahun 2017, kualitas program acara televisi di Indonesia secara keseluruhan mendapatkan indeks penilaian sebessar 3,25. Angka tersebut memperlihatkan secara umum kualitas program acara televisi di Indonesia masih di bawah standar kualitas yang ditetapkan KPI. Saat ini, stasiun televisi berorientasi pada keuntungan semata, tidak berorientasi pada pemberian tayangan yang edukatif.

Robertson, dkk.(2013) menjelaskan bahwa seorang individu yang telah menghabiskan lebih banyak waktu untuk menonton televisi selama masa kanak-kanak hingga dewasa memiliki diagnosis gangguan kepribadian anti sosial, sifat-sifat kepribadian yang lebih agresif, dan lebih mungkin terkena resiko mendapatkan hukuman pidana dibandingkan dengan mereka yang kurang melihat televisi.Hal tersebut terjadi karena orientasi masyarakat terpusat pada televisi sebagai penyaji berbagai peran, nilai, dan bentuk sosial. Masyarakat memiliki kecenderungan meniru tren yang ditampilkan oleh stasiun televisi termasuk diantaranya cara berpakaian, berbicara, bertingkah laku, dan gaya hidup lainnya. Sebagian besar masyarakat belajar arti simbolis dan ekspektasi dengan mengobservasi gaya hidup dari karakter yang terdapat pada televisi. Jika program yang terdapat pada televisi tidak memiliki arti edukatif dan membawa pesan negatif maka, penonton televisi dapat melakukan peniruan perilaku yang tidak tepat ketika berinteraksi dengan lingkungannya.

Tidak hanya televisi, bahkan internet juga dapat berdampak negatif pada dimensi interaksi sosial masyarakat dalam skala besar. Jika dilihat dari fungsinya, internet dapat menghubungkan orang-perorangan maupun kelompok tidak berbatas tempat dan waktu. Secara khusus, masyarakat Indonesia sebagai pengguna internet terbesar ke-6 di dunia, memiliki aktivitas yang sangat tinggi dalam menggunakan internet. Mereka menemukan berbagai informasi dalam jaringan tersebut melalui telepon genggam maupun laptop.

Dampak positif kemajuan teknologi pada aspek sosial bermasyarakat berupa efisiensi dan kemudahan dalam berinteraksi dalam bentuk suara, gambar bahkan video, sehingga informasi cepat tersampaikan. Pada dimensi yang berbeda,hasil penelitian Cydis (2015) menjelaskan bahwa integrasi teknologi menawarkan kesempatan untuk meningkatkan keterlibatan dan menciptakan komponen penting dari reformasi pembelajaran abad XII. Penelitian tersebut menyajikan peran teknologi dalam pembelajaran, yaitu bagaimana setiap manusia dapat memperluas pengetahuan, mewujudkan perilaku belajar melalui teknologi modern.

Selain dampak positif, terdapat pula dampak negatif yang perlu menjadi sorotan khususnya dalam proses interaksi masyarakat terhadap lingkungan sekitarnya. Interaksi secara langsung mengalami perubahan ketika manusia disibukkan oleh gawai yang dimiliki untuk menjelajahi internet. Pada saat bersama dengan keluarga, teman, maupun orang lain, setiap individu pada abad XII ini seringkali menatap gawai yang dimilikinya dan dapat mengacuhkan orang di sekitarnya. Toleransi terhadap orang lain berkurang. Secara tidak langsung, individu juga menarik diri dari lingkungan. Perilaku tersebut tergolong dalam kecanduan. Berdasarkan penelitian Cardak (2013), kecanduan internet berpengaruh terhadap psikologis individu yaitu menimbulkan perasaan kesepian, mengurangi kontrol diri, dan kenyamanan sosial. Hal tersebut diperkuat oleh Kwon, dkk.(2013),bahwa ketika internet semakin mudah dijangkau melalui telpon genggam, maka pola kecanduan terkait telepon genggam akan terjadi dan kekhawatiran terhadap fenomena tersebut semakin meningkat. Hal tersebut dikarenakan telepon genggam dapat menimbulkan masalah sosial yaitu kurangnya toleransi, penarikan diri dari lingkungan, kesulitan melakukan aktivitas sehari-hari, dan kurangnya kontrol diri.

Sebagai makhluk sosial, manusia tidak bisa hidup sendiri. Setiap individu harus menjalin interaksi sosial dengan individu lain yang sama-sama hidup dalam satu kelompok. Interaksi sosial secara positif, saling menegur, berjabat tangan, saling berbicara, dan mendengarkan menjadi sangat penting untuk dilakukan. Jika seseorang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mengakses internet dan mengabaikan orang-orang di sekelilingnya,maka akan terjadi efek negatif termasuk hubungan dirinya dengan masyarakat sekitar, bahkan antar anggota keluarga. Kepedulian terhadap orang lain, empati, simpati, dan saling tolong menolong dengan orang lain akan berkurang akibat kurang bijaknya setiap individu dalam memanfaatkan perkembangan teknologi.

Berdasarkan fenomena tersebut, restorasi atau pemulihan terhadap kurangnya interaksi sosial yang sehat menjadi sangat penting untuk dilakukan. Olahraga dapat menjadi solusi dalam merestorasi interaksi sosial yang negatif dalam era digital saat ini. Menciptakan lingkungan yang positif melalui olahraga merupakan alternatif yang disajikan. Penelitian Wallhead, dkk.(2012) menunjukkan bahwa keterlibatan setiap individu dalam aktivitas atau kegiatan olahraga dapat mengembangkan ikatan sosial dengan individu lainnya.  Dengan melakukan olahraga,kita memiliki potensi untuk memberikan kesempatan melakukan interaksi interpersonal dan pengembangan ikatan sosial dengan orang lain secara signifikan. O’Donovan (2003) melakukan penelitian etnografi yang mengeksplorasi interaksi setiap orang dalam keterlibatan sosial selama mengikuti kegiatan olahraga. Hal tersebut ternyata dapat mengubah hierarki sosial kelompok dengan cara membentuk struktur sosial setiap orang melalui kegiatan olahraga.

Intervensi yang dilakukan dalam merestorasi interaksi sosial melalui olahraga adalah sebagai berikut. Pertama, setiap individu atau kelompok diberi kesempatan untuk aktif terlibat dalam kegiatan olahraga. Kedua, setiap individu atau kelompok merasa dilibatkan dalam kegiatan penyelenggaraan olahraga. Ketiga, setiap individu atau kelompok sibuk dengan kegiatan yang terkait dengan olahraga sehingga di dalamnya bisa terjadi interaksi sosial yang baik.

Peran olahragadalam merestorasi interaksi sosial pada remaja mencakup enam hal, yaitu (1) menunjukkan kompetensi dalam pola keterampilan motorik dan gerakan yang diperlukan untuk melakukan berbagai aktivitas fisik; (2) menunjukkan pemahaman gerakan konsep, prinsip, strategi dan taktik yang berlaku untuk pembelajaran dan kinerja kegiatan fisik; (3) berpartisipasi secara teratur dalam aktivitas fisik; (4) mencapai dan mempertahankan tingkat maksimal kesehatan-kebugaran fisik; (5) memperagakan perilaku pribadi dan sosial yang bertanggung jawab dengan menghormati diri dan orang lain dalam pengaturan aktivitas fisik; dan (6) menilai aktivitas fisik untuk kesehatan, kenikmatan, tantangan, ekspresi diri, dan interaksi sosial. Program olahraga yang berorientasi pada enam standar tersebut diharapkan mampu untuk memperbaiki kemampuan interaksi sosial masyarakat pada era digital saat ini.

Penulis: Aang Ghunaifi Dardiri