MENYIAPKAN GENERASI TERBAIK BANGSA

  • by

Manusia adalah mahluk hidup yang selalu mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Perubahan tersebut dimulai dari proses pembuahan sperma seorang laki-laki yang membuahi sel telur yang ada pada rahim seorang perempuan. Proses ini merupakan proses awal pertumbuhan manusia. Proses selanjutnya tergambar dalam serangkaian tahap periodisasi perkembangan manusia. Akan tetapi, perkembangan tersebut juga tidak terlepas dari tugas setiap fase yang berbeda-beda. Dalam periodisasi perkembangan juga tercakup konsep usia serta faktor dan fungsi perkembangan yang diawali dengan pembuahan dan berakhir dengan kematian.

Perkembangan gerak merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam perkembangan individu secara keseluruhan. Perkembangan gerak dasar dan penyempurnaannya merupakan hal penting selama masa anak-anak. Semua anak mampu mengembangkan dan mempelajari berbagai macam gerak yang lebih rumit, namun hal tersebut tidak berlaku bagi anak-anak yang mengalami keterbelakangan dalam pertumbuhan dan perkembangannya.

Rahantoknam (1988) menyatakan bahwa yang termasuk kemampuan gerak adalah daya ledak otot (power), daya tahan (endurance), fleksibilitas (flexibility), dan keseimbangan (balance). Dari indikator kemampuan gerak yang telah dikemukakan oleh Rahantoknam di atas, keseimbangan kurang mendapat perhatian. Selama ini, secara umum guru pendidikan jasmani hanya menitikberatkan pada faktor kemampuan gerak yang lain.

Kemampuan perkembangan gerak kasar diawali dengan koordinasi tubuh, duduk, merangkak, berdiri, dan diakhiri dengan berjalan. Kemampuan perkembangan gerak kasar ini ditentukan oleh perkembangan kekuatan otot, tulang, dan koordinasi otot untuk menjaga keseimbangan tubuh. Perkembangan gerak kasar tidak hanya dipengaruhi oleh kemampuan fisik, tetapi juga kesiapan psikis anak untuk melakukannya, seperti memanjat dan berlari. Kemampuan gerak kasar sangat berpengaruh pada perkembangan anak. Bila mengalami keterlambatan pada kemampuan gerak, maka anak akan mengalami keterlambatan perkembangan dan pertumbuhan.

Masa depan bangsa Indonesia sangatlah ditentukan oleh generasi muda Bangsa ini. Kaum muda Indonesia adalah masa depan bangsa ini. Karena itu, setiap pemuda Indonesia, baik yang masih berstatus sebagai pelajar maupun yang sudah menyelesaikan pendidikan merupakan potensi yang sangat diandalkan bangsa dalam mewujudkan cita-cita dan juga mempertahankan kedaulatan. Dalam upaya mewujudkan cita-cita dan mempertahankan kedaulatan, bangsa ini tentu akan menghadapi banyak permasalahan, hambatan, rintangan, dan bahkan ancaman. Masalah-masalah yang muncul pun beraneka ragam. Banyak masalah yang timbul sebagai warisan masa lalu, masalah yang timbul di masa sekarang, sampai pada masalah yang timbul pada masa depan negara kita.

Salah satu cara untuk meningkatkan kualitas bangsa Indonesia adalah dengan cara memperbaiki kualitas pendidikan. Pendidikan merupakan faktor utama dalam pengembangan kualitas bangsa Indonesia. Pendidikan saat ini menjadi prioritas perhatian yang sangat serius. Hal tersebut tercermin dari alokasi anggaran yang direncanakan pemerintah, yang memiliki persentase cukup banyak dibandingkan dengan bidang lainnya.

Kualitas pendidikan tidak hanya ditentukan oleh faktor anggaran saja, tetapi banyak sekali faktor lain, terutama pada level pendidikan tingkat dasar dan pendidikan tingkat menengah. Terdapat dua generasi yang menduduki pendidikan tingkat dasar dan menengah saat ini, yaitu generasi Z dan generasi Y. Generasi Z adalah generasi yang lahir antara tahun 1995—2014. Generasi Y atau bisa juga disebut generasi milenial adalah generasi sebelumnya, yang merupakan generasi yang lahir antara tahun 1980—1997. Generasi ini disebut generasi milenial karena mereka merupakan satu-satunya generasi yang pernah melewati tahun milenium kedua sejak teori generasi ini dihembuskan pertama kali oleh sosiolog bernama Karl Mannheim pada 1923. Dalam artikel yang berjudulThe Problem of Generation, Mannheim mengenalkan teorinya tentang generasi. Menurutnya, manusia-manusia di dunia ini akan saling memengaruhi dan membentuk karakter yang sama karena melewati masa sosio sejarah yang sama. Maksudnya, manusia-manusia zaman perang dunia II dan manusia pasca perang dunia II pasti memiliki karakter yang berbeda, meski saling memengaruhi.

Pada era digital atau sering kita sebut sebagai era modern seperti sekarang ini, kehidupan para remaja telah jauh berbeda dengan kehidupan remaja pada zaman dahulu. Kita telah dimanjakan dengan kemudahan dan kecanggihan teknologi untuk melakukan suatu hal yang akan kita lakukan, akan tetapi hal ini juga dapat merugikan. Teknologi modern layaknya internet, ponsel, komputer, sampai fasilitas game, bisa dipandangdari dua sisi bagi remaja saat ini. Namun apakah hal tersebut akan berdampak positif atau bahkan berdampak negatif terutama terhadap kualitas pendidikan? Hasil penelitian terbaru mencatat pengguna internet di Indonesia yang berasal dari anak-anak hingga remaja diprediksi mencapai 30 juta jiwa. Dalam penelitian tersebut juga tercatat ada kesenjangan digital yang kuat antara anak dan remaja yang tinggal di perkotaan dengan yang tinggal di pedesaan. Hal tersebut terpapar dalam penelitian yang berjudul Keamanan Penggunaan Media Digital pada Anak dan Remaja di Indonesia yang dilakukan oleh lembaga PBB untuk anak-anak, UNICEF bersama para mitra, termasuk Kementerian Komunikasi dan Informatika, serta Universitas Harvard, Amerika. Dalam studi ini dipaparkan aktivitas online dari sampel anak dan remaja yang melibatkan 400 responden yang berusia 10—19 tahun di seluruh wilayah Indonesia yang memiliki wilayah perkotaan dan pedesaan. Sebanyak 98% dari anak dan remaja mengaku tahu tentang internet dan 79,5% diantaranya adalah pengguna internet. Dalam penelitian ini terdapat sekitar 20% responden yang tidak menggunakan internet. Alasan utamanya adalah mereka tidak memiliki perangkat atau infrastrukur untuk mengakses internet atau mereka dilarang oleh orang tua untuk mengakses internet.

Terkait data-data tersebut, aktivitas gerak anak di Indonesia berkurang dikarenakan adanya internet yang berada di genggaman tangan melalui smartphone mereka. Berkurangnya aktivitas gerak akan memengaruhi tingkat kebugaran fisik seseorang. Kualitas belajar siswa salah satunya dipengaruhi oleh tingkat kebugaran fisiknya. Hal tersebut senada dengan hasil penelitian Eero A. Haapal, dkk.(2016) tentang hubungan aktivitas fisik terhadap perkembangan akademik pada anak usia 6—8 tahun. Hasilnya membuktikan bahwa gaya hidup yang lebih aktif secara fisik dapat memberikan manfaat bagi pengembangan keterampilan membaca pada anak laki-laki pada tahun pertama sekolah. Faktor yang memengaruhi tingkat kebugaran jasmani siswa menurut Perryihoard (1997) adalah umur, jenis kelamin, somatotype, kondisi kesehatan, status gizi, berat badan, waktu istirahat, serta aktivitas jasmaniah. Dari pendapat tersebut, dapat ditelaah bahwa aktivitas jasmaniah memegang peranan yang cukup penting terhadap status kebugaran jasmani seseorang. Siswa pada era digital saat ini memiliki waktu aktivitas fisik yang lebih sedikit dari pada siswa pada era sebelumnya. Hal tersebut dikarenakan adanya beberapa faktor, mulai dari tuntutan akademik yang sangat tinggi hingga maraknya media sosial yang menyebabkan tersitanya waktu untuk melakukan aktivitas fisik.

Penelitian yang dilakukan oleh Geir K. Resaland, dkk.(2016) di Norwegia menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara kebugaran jasmani dengan prestasi akademik. Erin K. Howie (2012) melakukan penelitian senada di Amerika yang menunjukkan hasil bahwa aktivitas fisik memiliki kontruksi yang berkaitan dengan prestasi akademik siswa.

Penulis: Fadiel

Leave a Reply