MEMINIMALISASI KEKECEWAAN DUNIA SEPAK BOLA INDONESIA

0 Comments

Sepak bola benar-benar merupakan bisnis ‘emosi’. Suatu hal yang sebegitu besarnya itu, pada saat yang indah dapat menyebabkan semua orang menjadi buta dan lupa segalanya. Sebaliknya, ketika terpuruk, ia justru membawa dampak kesedihan bahkan amarah yang luar biasa. Seringkali pula, baik dan buruk yang terjadi di dalam dunia sepak bola dapat mengabaikan akal sehat.

Bicara soal sepak bola, kita tahu Indonesia sering kali mendapat kekecewaan yang pada akhirnya berujung kesedihan. Hal tersebut sangat beralasan apabila dilihat dari pencapaian prestasi Timnas Sepak bola Indonesia yang dalam kurun waktu 27 tahun terakhir sejak meraih medali emas Sea Games 1991, masih minim hingga kini. Minimnya prestasi Timnas Sepak bola Indonesia tidak terlepas dari labilnya penyelenggaraan kompetisi di Indonesia. Hal ini juga mengakibatkan hanya lima dari 18 klub yang bermain di kasta tertinggi Liga Indonesia yang mendapatkan lisensi Asian Football Confederation (AFC) sebagai klub profesional. Meskipun sesekali kabar membanggakan dan menggembirakan muncul, seperti kemenangan Timnas Indonesia dan mulai banyaknya bibit pemain muda potensial, namun tetap saja publik sepak bola Indonesia masih sering dirundung kekecewaan dan kesedihan. Kondisi ini bisa diibaratkan seperti “Kalah dalam hal ini, terperosok dalam hal itu, tenggelam dalam hal yang lain. Naik cemerlang pada satu sisi, namun terpuruk pada sisi yang lain.

Menilik kebiasaan di negara lain, sepak bola mempunyai beragam arti bagi para penikmatnya. Sepak bola di Afrika Selatan dijadikan simbol perlawanan terhadap penjajahan. Kemudian di Brasil, sepak bola layaknya agama dalam kehidupan masyarakatnya. Di Indonesia sendiri, sepak bola mempunyai tempat yang sangat berkesan bagi masyarakat sekalipun kondisi sepak bola Indonesia masih memprihatinkan. Hal tersebut ditunjukkan dengan sikap masyarakat Indonesia yang patut diacungi jempol dalam menyikapi berbagai permasalahan yang terdapat pada dunia sepak bola Indonesia. Meskipun sering kali dilanda kekecewaan, masyarakat Indonesia sangat luar biasa antusias, semangat, dan bangga. Tidak pernah sedikitpun berhenti menyatakan komitmen dalam memberikan dukungan. Namun, gelora semangat dan antusiasme masyarakat Indonesia harus diiringi pula dengan kecerdasan serta logika berpikir yang sehat dalam menyikapi situasi yang serba tak menentu dalam dunia sepak bola di Indonesia.

Kekecewaan yang berlarut-berlarut akibat minimnya prestasi sepak bola Indonesia tidak bisa dibiarkan begitu saja. Meraih prestasi instan dengan menaturalisasi pemain asing yang dianggap merupakan solusi yang realistis nampaknya harus dikesampingkan terlebih dahulu. Berdasarkan data tahun 2010-2017, ada sebanyak 15 pemain asing yang telah dinaturalisasi. Tujuan awalnya adalah diharapkan kehadiran mereka dapat mendongkrak prestasi timnas. Namun faktanya,hanya sedikit dari mereka yang kontinu dipanggil untuk membela Timnas.

Jumlah penduduk Indonesia mencapai 270 juta jiwa, terbesar keempat di dunia. Apabila bicara hukum probabilitas, sebenarnya realistis untuk mendapatkan pemain dengan kualitas seperti Cristiano Ronaldo, Lionel Messi, Paul Pogba,atau superstar sepak bola lain yang tersembunyi entah di pelosok Indonesia bagian mana. Sekarang pertanyaannya adalah bagaimana mencari atau setidaknya membentuk pemain sepak bola yang handal? Cara yang paling tepat adalah dengan menyelenggarakan kompetisi mulai dari jenjang profesional hingga akar rumput (grassroot). Secara sederhana apabila terdapat kompetisi yang baik dan berkesinambungan, otomatis pembinaan pemain sepak bola juga akan berjalan dengan baik. Williams &Hodges (2005) menjelaskan bahwa kompetisi sebagai sarana mematangkan kecakapan, karakter, mental para pemain, dan juga menjadi wadah dalam menemukan bakat pemain baru. Kompetisi merupakan salah satu solusi sederhana untuk memperbaiki prestasi Timnas Sepak bola Indonesia. Bisa dibayangkan bagaimana hasilnya jika ada kompetisi sepak bola di semua kota/kabupaten, semua kecamatan, semua desa, dan lain sebagainya yang diselenggarakan secara profesional, transparan, berkesinambungan, dan konsisten dengan penjadwalan yang baik.

Dana untuk sepak bola Indonesia yang jumlahnya tidak sedikit, lebih baik diprioritaskan untuk menyelenggarakan kompetisi. Ketika semakin banyak kompetisi yang diselenggarakan,akan semakin banyak pula pertandingan yang dimainkan oleh para pemain. Hal tersebut membuka peluang yang baik untuk menemukan pemain sepak bola yang mumpuni dengan jam terbang pertandingan yang cukup tinggi. Namun faktanya, kesinambungan penyelenggaraan kompetisi di Indonesia mulai dari jenjang usia dini sampai profesional dalam hal intensitas dan konsistensi masih perlu diperbaiki. Hal tersebut menunjukkan bahwa penyelenggaraan kompetisi lebih mendesak sifatnya daripada hanya sekadar mengandalkan pemusatan latihan.

Pemusatan latihan tidak bisa diandalkan dalam menumbuhkan industri olahraga. Namun dengan adanya kompetisi, semakin banyak orang yang datang untuk menonton dan mendukung tim sepak bola secara langsung di stadion ataupun melalui televisi. Hal ini mengakibatkan semakin banyak pula tambahan dana yang didapat dari penjualan tiket, penjualan merchandise, transaksi penjualan pemain antar klub, hak siar televisi, dan sponsor. Sudah banyak negara di Eropa yang berbasis kompetisi, mulai dari tingkat sekolah sampai tingkat profesional yang bisa dijadikan contoh bagaimana kompetisi tidak hanya dapat meningkatkan prestasi Timnas bahkan juga dapat menguntungkan dari segi finansial. Perputaran roda ekonomi yang berjalan saling menguntungkan tersebut membuat industri olahraga tumbuh semakin subur. Bahkan di Australia yang jumlah populasi penduduknya sangat sedikit dibandingkan Indonesia, kompetisi juga sangat diutamakan. Kendala yang dihadapi pun sama, yaitu masalah pembiayaan. Namun bedanya selain mendapatkan pemasukan dari sponsor, di Australia, berbagai elemen termasuk pemerintah dapat bersinergi dengan baik dengan tujuan kompetisi yang telah dirancang sedemikian rupa bisa berjalan sesuai target yang diharapkan.

Australia juga memfokuskan program atlet khusus yang dikelola oleh badan khusus. Namun hal tersebut sangat beralasan, apabila dibandingkan dengan Amerika atau Eropa yang mempunyai jumlah penduduk yang banyak. Jika pemain sepak bola yang dimiliki kurang baik, maka mereka tinggal cari lagi yang lain. Persoalannya, karena jumlah penduduk Australia sangat sedikit, butuh pendekatan secara sistem yang bertujuan untuk memaksimalkan potensi pemain yang ada. Bisa dilihat lebih jauh lagi, akibat dari minimnya jumlah sumber daya manusia di Australia, sport science dikembangkan secara matang dan begitu hebat. Anak-anak sejak usia dini sudah diukur secara antropometri untuk mengetahui bakat serta kapasitasnya sebagai calon pemain atau atlet dan di cabang olahraga mana mereka bisa memaksimalkan potensinya untuk berprestasi.

Sekarang kembali lagi ke kompetisi. Ketika orientasi berbasis kompetisi digunakan, ada beberapa aspek yang perlu menjadi perhatian khusus, diantaranya dalam kompetisi harus bisa memaksimalkan jumlah pertandingan dan memastikan ketersediaan infrastruktur pertandingan (manusia dan bangunan). Perihal kompetisi dan pengembangan sepak bola, kita percayakan saja kepada pengurus asosiasi yang menaungi, baik itu dari tingkat pusat sampai ke tingkat daerah. Hal ini dikarenakan mereka juga diberikan anggaran dana dan target untuk bisa menyelenggarakan sejumlah pertandingan dalam satu tahun.

Sekarang kita coba kembali menilik ke Australia yang secara geografis tidak jauh dari Indonesia. Disana terdapat Departemen Olahraga dan Rekreasi (Department of Sports and Recreation) yang mempunyai konsep visioner. Departemen tersebut sama sekali tidak mengelola atau bahkan mengurusi kompetisi dan pembinaan atlet. Kompetisi diserahkan secara penuh kepada asosiasi cabang olahraga masing-masing. Sekarang yang menjadi pertanyaan,apa tugas departemen olahraga dan rekreasi tersebut? Sederhana. Tugas mereka adalah memastikan pada setiap wilayah yang dihuni masyarakat,terdapat gedung atau fasilitas olahraga yang memadai untuk digunakan. Jika wilayah tersebut belum mempunyai gedung indoor, ya segera dibangunkan. Jika tidak ada rekreasi, ya dibuatkan area terbuka hijau yang juga mempunyai jogging track dan fasilitas pendukung lainnya. Secara prinsip,perlu komitmen yang kuat untuk bisa memastikan masyarakat berolahraga, memastikan olahraga memasyarakat. Sederhana sekali.

Sangat jelas, bagaimana tugas pokok dan fungsi pengadaan infrastruktur jadi tanggung jawab siapa. Lebih jelas lagi pengembangan kompetisi serta pembinaan atlet menjadi tanggung jawab siapa. Sehingga, kompetisi akan terus berjalan secara berkesinambungan dan terselenggara dengan sistematis. Hal tersebut merupakan contoh dari negara tetangga kita. Apabila kita menilik lebih jauh lagi, yang sederhananya lebih dari Australia, ada Amerika Serikat yang bahkan tidak mempunyai menteri atau departemen olahraga. Namun, bukan berarti mereka tidak mempunyai alokasi anggaran untuk olahraga. Mereka punya dan sangat besar. Anggaran tersebut diarahkan secara langsung ke asosiasi yang menaungi dan menyelenggarakan aktivitas olahraga. Contohnya saja, subsidi yang diberikan ke kampus-kampus peserta National Collegiate Athletic Association (NCAA), yaitu kompetisi tingkat nasional pada tingkat universitas di Amerika Serikat. Sekarang yang menjadi pertanyaan, apakah bisa cara-cara tersebut diterapkan di Indonesia khsusunya pada sepak bola? Sangat bisa. Kuncinya adalah sinergi dari berbagai pihak yang memiliki visi, misi, komitmen, dan idealisme dengan tujuan untuk memperbaiki kembali iklim sepak bola di negara yang kita cintai ini, sehingga kita tidak lagi terus murung jika bicara soal sepak bola di masa mendatang dan bisa memberikan warisan yang baik bagi anak cucu kita melalui sepak bola.

Penulis: Aang Ghunaifi Dardiri

 


Leave a Reply

%d bloggers like this: