Kuliah atau latihan? Dilema yang dipaksakan untuk mahasiswa atlet

0 Comments

           Transisi sebagai mahasiswa dan atlet di kehidupan perguruan tinggi telah menjadi topik yang menarik. Dalam beberapa tahun terakhir dibeberapa universitas, perguruan tinggi maupun di National Collegiate Athletic Association (NCAA) menghadapi pembaruan untuk memastikan mahasiswa-atlet berhasil menyelesaikan bidang yang ditekuni dan memiliki keterampilan tenaga kerja yang relevan agar siap terjun ke masayrakat (Dent, 2014). Mahasiswa yang merangkap menjadi atlet menginventesikan banyak waktu dan energi mereka dalam olahraga, mengurangi waktu mereka yang berkomitmen untuk mengeksplorasi dan mempersiapkan kemungkinan karir yang akan dipilih oleh mereka (Sandstedt, 2004). Selama mereka masuk diperguruan tinggi, mahasiswa-atlet menghabiskan hingga 20 jam perminggu atau setara dengan pekerjaan paruh waktu dan dalam waktu latihan resmi mereka. Banyak atlet juga yang menghabiskan waktu tambahan untuk mempersiapkan, mengkondisikan dan latihan mandiri untuk mempertahankan atau meningkatkan kinerja mereka (Wieberg, 2011).

            Konsep berkarir ganda mengacu pada kombinasi dan penggabungan karir atlet dengan pendidikan atau pekerjaan (Geraniosova, 2015). Bagi seorang atlet, mengejar Pendidikan sambal berkompetisi dalam olahraga dengan performa tinggi dapat menjadi tantangan. Kita tahu bahwa saat ini terdapat peningkatan permintaan pada kinerja atlet didalam olahraga elit. Hal tersebut dapat menentukan tekanan yang sangat tinggi pada atlet, yang mana sering dipaksa untuk memilih antara memaksimalkan potensi menjadi atlet atau memperoleh gelar yang baik untuk karir pasca menjadi atlet (Lavallee, 2000). Disatu sisi pemilihan antara karir menjadi atlet atau menuntaskan pendidikan sering dapat menyebabkan penghentian dini karir atlet karena memprioritaskan Pendidikan. Di sisi lain,  dapat terjadi atlet cenderung kurang berinventasi dalam Pendidikan karena terlalu berfokus pada keberhasilan menjadi seorang atlet. Perlu diingat bahwa olahraga bukanlah karir seumur hidup, sebagian besar atlet harus menghadapi penurunan kemampuan fisik yang tidak dapat dihindari. Sekitar 5-7% atlet elite berhenti menjadi atlet pada usia rata-rata 34 tahun (North, 2004). Ditemukan bahwa (North, 2004) atlet senam, menyelam, berenang, skating dan judo berfikir untuk melakukan pension antara usia 24 dan 30 tahun, serta untuk golf, berkuda dan menembak, keputusan pensiun biasanya terjadi setelah usia 40 tahun Ditemukan bahwa (North, 2004) atlet senam, menyelam, berenang, skating dan judo berfikir untuk melakukan pension antara usia 24 dan 30 tahun, serta untuk golf, berkuda dan menembak pension biasanya terjadi setelah usia 40 tahun.

            Lamanya berkarier dapat tergantung pada jenis olahraga yang ditekuni, lamanya berkarir setiap cabang olahraga dapat berbeda, namun tidak akan berjalan selamanya.

            Bagi mahasiswa-atlet, tidak mudah untuk menemukan keseimbangan antara Pendidikan dan latihan, karena menemukan penyesuaian untuk melakukan keduanya ekaligus membutuhkan waktu yang lama. Sama-sama berusaha meningkatkan prestasi akademik dan olahraga juga menguras mental dan fisik. Banyak peneliti yang meng-klaim bahwa partisipasi dalam olahraga dapat mendorong dan meningkatkan kepribadian, kepemipinan dan keterampilan jika didukung secara memadai dengan pengalaman di universitas. Artinya, olahraga akan mendapatkkan manfaat maksimal bila Lembaga universitas maupun pemerintah daerah memfasilitasi tercapainya pengalaman maksimal dalam persiapan masa depan, dalam bentuk mendukung karier ganda mahasiswa atlet.

            Terdapat beberapa prasangka maupun stereotip terhadap mahasiswa-atlet seperti “atlet bodoh”, “hanya bisa menggonakan otot saja”, dan cindering memilih “jurusan yang lebih mudah” dibanding dengan rekan-rekannya. Namun, dinegara seperti Amerika Serikat, status karir ganda mahasiswa-atlet menunjukkan bahwa mereka tidak dangkal dalam menunjukkan konsep diri, dimana filosofi hidup dan karakter mereka yang dapat ditingkatkan dengan partisipasi maksimal baik dalam Pendidikan maupun olahraga.

            Seorang mahasiswa-atlet yang berkarir ganda layak untuk diterima oleh rekan-rekan mahasiswa lainnya maupun para dosen dan pejabat institusi universitas, dan mereka juga layak untuk mendapatkan hak yang sama dengan mahasiswa lainnya. Layanan terhadap kerja keras meeeka menjalani karier ganda dapat berupa penghargaan, perhatian, perawatan, dukungan hingga bantuan dari universitas dan institusi publik. Mengapa institusi dan masayarakat perlu mendukung atlet-mahasiswa?  Karena seorang atlet professional adalah orang yang terlibat dalam olahraga untuk mendapatkan gaji dan bertahan hidup. Olahraga bisa jadi, bukanlah sekedar hobi baginya, namun juga merupakan perwujudan tanggung jawab dan integritas probadi, bahkan tanggungjawab profesionelisme mewakili klub, daerah atau negara dalam even-even olahraga yang bergengsi. Padah secara rasional, sangat sedikit atlet yang mampu untuk menghasilkan pendapatan yang besar dari olahraga. Mereka dapat juga berasal dari kalangan kurang mampu dan setelah menjadi atlet professional mereka dipaksa untuk memulai kembali kehidupan baru dan mencari pekerjaan baru. Seorang mahasiswa-atlet menjadi pelajar (pada level apapun) dan mengikuti kompetesi baik nasional maupun internasional dapat memberikan prestasi dan kehormatan bagi negara, kota dan masyarakatnya.

             Menjadi mahasiwa-atlet tampaknya menjadi tugas yang sangat kompleks dan sulit dipahami, karena banyak faktor dan variable yang berkelindan di dalamnya. Misalnya,  seperti visi masing-masing universitas atau perguruan tinggi, bisa jadi tidak memasukkan peran mahasiswa atlet ke dalamnya. Kurangnya pengetahuan atau kesadaran menewrima populasi mahasiswa-atlet ini juga dapat membuat para pengajar, dosen, pejabat universitas kurang memahami kebutuhan mereka, bahkan tidak memasukkan entitas mereka ke dalam prestasi universitas. Hal ini dapat mengarah pada pilihan yang dipaksakan kepada mereka: pilih menempuh pendidikan atau berkarier sebagai atlet?

             Kesadaran sosial bahwa Pendidikan merupakan hak bagi atlet sepanjang hidupnya juga tetap harus disadari, daripada sekedar memaksa mereka dalam dilemma memilih salah satu saja: kuliah atau latihan. Padahal, cukup banyak solusi alternatif untuk mendukung mereka, seperti fasilitas bimbingan dan mentoring. Bagi mahasiswa-atlet, mentor bisa dating dari berbagai latar belakang yang berbeda dan dapat menjadi contoh untuk ditiru. Seorang mentor memainkan peran yang luar biasa dalam membantu mahasiswa-atlet selama transisi mereka dari profesi mereka sebagai olahragawan ke kehidupan universitas. Dan tak lupa sistem komunikasi dan teknologi menggunakan pembelajaran online juga bisa digunakan. Kalaupun program-program tersebut dirasa kurang berhasil, setidaknya ada evaluasi dan pelajaran yang bisa diambil.

            Pada akhir partisipasi dalam olahraga tingkat elite, misalnya mantan atlet sering mengalami emosi dan berperilaku negatif. Dalam beberapa kasus, mahasiswa-atlet harus mempersiapkan untuk berakhirnya karir mereka di dunia olahraga, dengan mempersiapkan diri terjun menekuni karier lain dengan bekal ilmu dan pendidikan yang cukup.

 

Reference

Dent, M. S. (2014). Do colleges drop the ball with student-athletes?

Geraniosova, K. &. (2015). The experience of dual career through Slovak athletes’ eyes. Physical Culture and Sport. Studies and Research, 66(1), 53-64.

Lavallee, D. &. (2000). Career transitions in sport: International perspectives. WV: Fitness Information Technology.

North, J. &. (2004). An investigation of potential users of career transition services in the United Kingdom. Psychology of Sport & Exercise, 5(1), 77.

Sandstedt, S. D. (2004). Development of the student-atlhlete caeer situation inventory (SACSI). Journal of Career Development,, 31, 79-93.

Wieberg, S. (2011). NCAA survey delves into practice time, coaches’ trust. USA Today. Retrieved from http://usa today30.usatoday.com/sports/college/2011-01-14-ncaa-survey_N.htm.


Leave a Reply

%d bloggers like this: