KEADILAN DALAM PRESPEKTIF FILSAFAT KEPELATIHAN OLAHRAGA

0 Comments

Olahraga merupakan aktivitas yang melibatkan aktivitas kemampuan fisik dan dalam pelaksanaan biasanya mengikuti aturan-aturan tertentu. Olahraga juga merupakan suatu aktivitas yang kompleks yang tumbuh dan berkembang dengan berbagai cara pelaksanaanya serta memiliki tujuan yang berbeda sesuai dengan penekanannya. Tujuan berolahraga dapat dibagi atas kebutuhannya yaitu; untuk rekreasi (bersenang-senang), untuk pendidikan (pembinaan disiplin, keberminatan, kepribadian, dan kerjasama siswa), untuk kesehatan (pencegahan, pengobatan, dan rehabilitasi penyakit), untuk meningkatkan kebugaran jasmani (agar mampu melakukan pekerjaan sehari-hari dengan tingkat efisiensi dan produktifitas tinggi), dan untuk meningkatkan prestasi (menjadi juara olahraga) (Nala, 1998)

Sebelum mencapai sebuah tujuan olahraga, seseorang perlu melakukan latihan. Latihan didefinisikan sebagai sebuah aktivitas dengan menggunakan otot-otot yang terlibat dalam berbagai cara untuk menjaga kesegaran jasmani atau penggunaan jasmani demi memelihara organ atau bagian tubuh dan fungsinya agar selalu dalam keadaan sehat. Latihan adalah suatu aktivitas fisik untuk meningkatkan kinerja tubuh, kebugaran, kekuatan, daya tahan dan meningkatkan penampilan tubuh.

Kesadaran bahwa olahraga merupakan ilmu secara internasional mulai muncul pertengahan abad 20, dan di Indonesia secara resmi dibakukan melalui deklarasi ilmu olahraga tahun 1998. Namun beberapa akademisi dan masyarakat awam memang masih pesimis terhadap eksistensi ilmu olahraga, khususnya di Indonesia, terutama dengan melihat kajian dan wacana akademis yang masih sangat terbatas dan kurang integral. Sebagai suatu ilmu baru yang diakui secara luas, ilmu olahraga berkembang seiring kompleksitas permasalahan yang ada dengan ketertarikan-ketertarikan ilmiah yang mulai bergairah menunjukkan eksistensi ilmu baru ini ke arah kemapanan (Pramono, Made).

Filsafat, dalam hal ini dianggap memiliki tanggung jawab penting dalam mempersatukan berbagai kajian ilmu untuk dirumuskan secara padu dan mengakar menuju ilmu olahraga. Relevansi filsafat ini pada gilirannya mensyaratkan pula komunikasi lintas, inter, dan muiltidisipliner ilmu-ilmu terkait dalam upaya menjawab persoalan dan tantangan yang muncul dari fenomena keolahragaan. Dengan kata lain, proses timbal balik yang sinergis antara khasanah keilmuan dan wilayah praktis muncul, dan menjadi tanggung jawab filsafat untuk mengkritisi, memetakan dan memadukan hal tersebut.

Bedasarakan uraian di atas, keadilan dalam prespektif filsafat kepelatihan olahraga akan sangat membantu memecahkan berbagai permasalah yang muncul dalam kepelatihan olahraga tersebut. Keadilan merupakan frasa yang pada saat ini telah menjadi sebuah frasa yang sangat popular, Sebenarnya yang menjadi pertanyaan besar adalah apakah keadilan itu? Dalam pencarian keadilan memotivasi banyak orang melakukan banyak hal, baik positif maupun negatif. Alasan keadilan juga banyak dikemukakan sebagai alasan suatu tuntutan atau menjadi basis argumen dalam sebuah perdebatan. Hal inilah yang menimbulkan pertanyaan, apakah sebenarnya keadilan itu? Apakah keadilan berarti “sama”? Jika saya sama dengan anda maka apakah itu berarti adil? Ini adalah maksud yang sering dikaitkan dengan kata keadilan. Sebenarnya kita mempunyai kata khusus untuk hal tersebut yang lebih tepat yaitu “Kebersamaan” seharusnya kata ini yang digunakan jika mengemukakan konsep keadilan yang berarti sama. Merujuk pada pernyataan di atas, pertanyaan selanjutnya adalah apakah keadilan berarti “perbedaan”? Jika memang kita berbeda, tentunya keadilan adalah perlakuan yang berbeda sesuai dengan perbedaannya. Perlakuan yang lebih perlu diberikan kepada kaum minoritas, sedangkan kaum yang sudah mayoritas tentunya akan dibiarkan saja. Yang kurang diberi lebih sedangkan yang lebih dikurangi, kalau seperti hal tersebut maka akan terlihat berbeda perlakuannya tetapi sama pada akhirnya.

Hakikat arti keadilan seperti hal tersebut di atas sebenarnya mirip dengan yang kedua, yaitu ingin memperoleh persamaan. Kita harus diperlakukan berbeda supaya sama. Padahal perlakuan berbeda itu sendiri sudah tidak sama, jadi apakah ingin memperoleh keadilan dengan cara yang tidak sama? Apakah keadilan berarti “pada tempatnya“?  Banyak kita temui pendapat yang menyatakan bahwa keadilan itu harus dilihat “pada tempatnya“ atau “pada konteksnya”. Jadi adil bisa berarti sama dan juga bisa berarti berbeda. Masalahnya adalah jika sudah berbicara tentang konteks berarti kita harus berbicara tentang persepsi, kalu di awal hanya persepsi akan arti keadilan yang berbeda-beda, sekarang ditambah persepsi akan konteksnya. Kedua hal tersebut paling tidak mencoba untuk saling mengerti, hanya saja jika sudah saling mengerti apakah saling akan mengorbankan kepentingan? Karena mengerti dan berkorban adalah dua pernyataan yang masih memiliki arti yang luas.

Keadilan sangat lekat kaitannya dengan kebenaran dan kebenaran itu adalah relatif. Jadi apakah keadilan berarti relatif? Relatif terhadap apa? Yang paling baik adalah relatif kepada semua orang yang terlibat, artinya semua orang akhirnya memahami dan dapat melihat bahwa keadilan yang diperjuangkan mempunyai nilai dan kebenaran yang dapat diterima. Apakah hal tersebut dikatakan kompromi? Kompromi memiliki nilai negatif karena berati ada yang dirugikan dan membiarkan dirinya rugi untuk menerima keadilan, lain halnya jika tidak merasa rugi.

Setelah kita membaca beberapa pengertian tentang keadilan diatas, kemudian kita kaitkan dengan olahraga sebenarnya keadilan dalam olahraga itu seperti apa? Apakah porsi yang sama dalam melakukan olahraga bagi tiap orang itu bisa dikatakan adil dalam olahraga? Ataukah keadilan dalam olahraga itu yang dikatakan kita berolahraga sesuai dengan kemampuan, tempat,dan waktu kita masing-masing?

Sebenarnya jika kita lihat dalam kehidupan sehari-hari keadilan dalam olahraga masih jarang sekali terwujud. Sebagai contoh masih adanya nepotisme dalam seleksi masuk tim olahraga, atau olahraga yang hanya bisa dilakukan oleh orang-orang kaya saja padahal masyarakat yang kurang mampu dalam tingkat ekonomi bawah sekalipun ingin sekali melakukan olahraga tersebut, dan dari segi kemampuan skill tidak kalah dengan si kaya. Bagimana dengan semboyan“sport for all” yang selama ini didengung-dengungkan?

Dalam pasal 6, BAB IV undang-undang sistem keolahragaan nasional (2005) tentang hak dan kewajiban warga negara mengatakan setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk: (1) melakukan kegiatan olahraga, (2) memperoleh pelayanan dalam kegiatan olahraga, (3) memilih dan mengikuti jenis atau cabang olahraga yang sesuai dengan bakat dan minatnya, (4) memperoleh pengarahan, dukungan, bimbingan, pembinaan dan pengembangan dalam keolahragaan, (5) menjadi pelaku olahraga, dan (6) mengembangkan industri olahraga.

Hal tersebut yang menjadikan pedoman atau landasan tetang persamaan hak setiap warga negara kaitannya tentang olahraga. Dalam aspek pemimpin atau lebih khusus adalah “pengadil” pertandingan olahraga masih adanya penyuapan wasit sehingga dalam suatu pertandingan wasit selalu mengambil keputusan yang memihak salah satu tim yang memberikan suap tersebut. Kedua hal tersebut di atas merupakan potret belum baiknya pemaknaan dan penerapan keadilan dalam olahraga, tetapi olahraga juga mampu menjadi pelopor keadilan, dalam hal ini keadilan menurut Plato yang bermakna perlakuan yang seimbang antara hak dan kewajiban. Sistem kompetisi merupakan contoh konkret seimbangnya antara hak dan kewajiban, siapa yang berusaha dengan baik maka dia akan memperoleh hasil yang maksimal.

Dalam sebuah pertandingan sepak bola menurut aturan yang disepakati adalah sebelas pemain berada dalam lapangan pertandingan untuk tiap tim merupakan sebuah penggunaan “keadilan” dalam pertandingan. Kemudian pada saat berlangsungnya pertandingan salah satu tim, pemainya mendapat hukuman kartu merah karena melakukan pelanggaran keras, maka secara kuantitatif dikatakan tidak adil. Tetapi menurut pengertian keadilan secara prosedural hal tersebut dikatakan “adil” karena dikeluarkannya pemain tersebut untuk mentaati peraturan yang sudah disepakati sehingga “keadilan” dalam konteks tersebut dikatakan sudah tercapai.

Jika lebih mengerucut lagi dalam proses latihan, dalam olahraga menggunakan sistem keadilan, yaitu tujuan yang sama tetapi melalui proses yang “tidak adil”, karena dalam latihan menggunakan prinsip individual. Kita ambil contoh latihan dalam bolavoli, latihan secara teknik jelas berbeda antara tosser, spiker maupun libero. Secara fisikpun jelas berbeda sesuai dengan kondisi fisik masing-masing atlit, tetapi mempunyai tujuan yang sama yaitu menjadi sebuah tim yang bagus. Dalam cabang olahraga sepak bola juga demikian, selain kiper masih ada sepuluh pemain yang bertanding, dalam proses latihan dan fakta di lapangan. Proses latihan hanya dibedakan antara kiper dan non kiper. Contoh lain terapan keadilan dalam latihan olahraga adalah pada acara latihan fisik, setiap individu memiliki kemampuan fisik yang berbeda, sehingga dosis latihan yang diberikan juga harus menyesuaikan dengan siapa yang diberi latihan. Si A adalah atlet lompat jauh dan si B adalah youtuber, mereka akan melakukan acara latihan squat, mereka punya latar belakang yg berbeda dan mempunyai tujuan sama, secara logika latihan squat yg dilakukan juga pasti berbeda, terutama dalam hal intensitas latihanya atau beban yang akan di angkat dalam sesi latihan tersebut. Tetapi perbedaan itulah yang disebut adil, jika mereka diberi beban latihan yang sama maka akan tidak sesuai dengan kemampuan masing-masing serta sangat tidak sesuai dengan prinsip spesialisasi dan individu.

Dalam dunia internasonal dapat dicontohkan pada pergelaran piala dunia, untuk pemberian jatah tim yang bertanding pada putaran final masing-masing benua tidak sama. Faktanya Benua Eropa adalah kontestan terbanyak pada perhelatan pesta sepak bola akbar tersebut. Sedangkan kualifikasi piala dunia dilaksanakan di seluruh dunia dan seluruh Negara berhak mengikuti kualifikasi tersebut serta dilakukan pada masing-masing benua. Apakah hal tersebut sudah bisa dikatakan adil untuk pembagian jatah kontestan putaran final piala dunia?Keadilan hanyalah merupakan simbol, namun tanpa adanya simbol tersebut maka anarki akan terjadi di dunia ini.

Penulis: Fadiel


Leave a Reply

%d bloggers like this: