Dunia kepelatihan olahraga dikuasi non degree, Apa Salah?

0 Comments

Pelatih olahraga merupakan seseorang yang memiliki kompetensi dalam cabang olahraga tertentu dan memiliki tugas untuk menyiapkan fisik juga mental olahragawan ataupun kelompok olahragawan. Seorang pelatih olahraga memiliki tanggung jawab dalam menyusun menu latihan atletnya, mulai dari perencanaan hingga evaluasi. Meski identik dengan membina tim olahraga atau atlet, seorang pelatih juga bisa membimbing orang biasa, dalam artian yang bukan atlet. Contohnya adalah seorang pelatih pribadi atau biasa disebut personal trainer.

Agar menjadi seorang pelatih yang kapabel maka seseorang harus memiliki 3 aspek penting yaitu: Pengetahuan (knowledge), Pengalaman (experience) serta Karakter (caracter). Khusus aspek knowledge, pada era distruptif saat ini akan memberikan kemudahan pula bagi kegiatan transfer pengetahuan dalam dunia pendidikan. Dapat diambil contoh ketersediaan media pembelajaran yang canggih, sistem internet yang memadai, sistem pembelajaran dalam jaringan (online) dan berbagai kecanggihan dunia pembelajaran informatika lainnya.

Ilmu Kepelatihan Olahraga secara teoritis merupakan ilmu terapan sehingga pasti ada beberapa ilmu murni sebagi pendukungnya, tidak hanya psikologi/mental ataupun ilmu “angkat-angkat” besi saja keilmuan yang harus di kuasai pelatih seperti yang sering kita dengar dari para komentator-komentator handal serta influencer kebugaran negeri ini. Setidaknya ada dua belas bidang ilmu yang wajib dikuasi oleh seorang pelatih.

Knowledge kepelatihan olahraga tersebut seyogyanya akan tuntas dalam proses studi diperguruan tinggi. Selama empat tahun studi normal sarjana, khususnya  bidang keolahragaan harusnya mampu untuk memenuhi kebutuhan pasar akan kebutuhan pelatih. Tetapi hal tersebut dirasa kurang, sehingga muncul kebijakan pendamping ijazah atau lebih tepatnya sertifikat kompetensi untuk mendampingi ijazah formal.

Sertifikat-sertifikat kompetensi saat ini bertebaran sangat liar terutama di dunia internet, seperti penjelasan ditas terkait era digital saat ini. Sertifikasi kompetensi sangat mudah didapatkan melalui kursus-kursus online. Kursus online sangat membantu para generasi muda dalam memperoleh pengetahuan diluar bangku pendidikan formal. Tetapi pada saat berkompetisi dalam dua kerja tidak jarang para alumnus sekolah resmi kalah bersaing dengan para alumnus sertifikasi kompetensi yang berasal dari bangku “pengalaman lapangan” atau “non degree”.

Sertifikasi kepelatihan yang nyata-nyata adalah sertifikasi pelatih cabang olahraga, para pelatih cabang olahraga digawangi oleh asosiasi cabang olahraga masing-masing. Dalam kasus ini masyarakat tampaknya masih menyandarkan kepercayaan kepada mantan atlet yang bersertifikat pelatih cabang olahraga “A” dari pada lulusan sarjana kepelatihan yang menerbitkan jurnal hasil penelitian pada jurnal “B”. Fenomena lain adalah masing-masing pemilik hak paten alat olahraga mengeluarkan sertifikat sendiri terkait dengan praktik dilapangan.

Jika para pebelajar di sekolah formal tidak segera memantaskan diri, maka “useless” pengetahuan yang didapat dengan harga mahal dilingkungan sekolah formal bukan suatu keniscayaan lagi. Kekalahan alumnus sekolah formal dan belajar non degree ini dikarenakan aspek pengalaman yang kurang, selain itu soft skill dari masing-masing individu yang kurang diasah selama mengenyam bangku sekolah formal. Mereka sangat disibukkan dengan tugas-tugas mata kuliah yang kurang berorientasi kepada permasalahan aktual, tentunya hal tersebut tidaklah sepenuhnya salah. Tetapi dalam memasuki dunia kerja hal utama yang harus dikembangkan adalah Skill, setelah itu harus para generasi penerus tersebut wajib memiliki critical skills.

Dalam konteks pendidikan, belajar dan sekolah sebenarnya yang ditekankan adalah wajib belajar, bukan wajib sekolah karena belajar adalah kewajiban seumur hidup. Ke sekolah belum tentu belajar sedangkan belajar tidak harus di sekolah. Gelar tidak menjamin kompetensi, kelulusan tidak menjamin kesiapan bekerja dan akreditasi tidak menjamin mutu.

Oleh: N.R Fadhli (pelatih gobak sodor)


Leave a Reply

%d bloggers like this: