CERITA JURNAL #1

0 Comments

Marhaban Ya Ramadan semoga puasa bukan menjadi sebuah alasan buat kita untuk tidak beramal dan mengurangi kegiatan” yang bermanfaat. Di suatu siang menjelang sore yang panas menyengat. Kami sekelompok anak muda yg penuh harapan dengan komunitas yang kami miliki “Active Movement” melakukan diskusi dan review jurnal olahraga yang sebelumnya telah kami baca. Diskusi dilakukan di cafe pustaka Universitas Negeri Malang.

Obrolan santai sambil ngabuburit ini dimulai oleh tokoh sentral dan salah satu yang menginisiasi kegiatan ini, beliau adalah Bapak Fadil salah satu tenaga pengajar di Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang. Beliau menceritakan artikel yang telah dibacanya tentang perbedaan high intensity interval training dengan moderat interval training terhadap keefektifan Peningkatan VO2 max. Bapak Fadil menjelaskan bahwa subjek dalam penelitian ini berjumlah 40 orang penelitian ini diterbitkan pada tahun 2006 dan sudah terindeks scopus, pada hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa high intensity interval training lebih efektif daripada moderat interval training. Bapak Fadil juga menambahkan hal ini sangat bermanfaat bagi kita para pelatih untuk memilih model atau metode yang paling tepat untuk meningkatan VO2 max. Karena selama ini para pelatih menganggap bahwa untuk meningkatkan VO2 max metode yang paling efektif adalah moderat interval training. Tetapi dijelaskan lebih jauh metode high interval training memang cukup efektif untuk meningkatkan VO2 max daripada metode moderat interval training. Akan tetapi hal tersebut tidak bisa diterapkan ke semua orang atau bisa dikatakan high interval training hanya dapat meningkatkan VO2 max pada orang-orang atau subjek tertentu yaitu subjek atau orang-orang yang belum Terlatih.

Obrolan selanjutnya disambung oleh Bapak Taufik yang lebih akrab dipanggil Bapak Cong yang merupakan dosen di Universitas Negeri Malang dan tokoh penguasa daerah malang selatan. Beliau menjelaskan mengenai gambaran tingkat kebugaran jasmani yang ada di Asia terutama Hongkong, dimana tingkat kebugaran jasmani masyarakat yang ada di sana yang dikatakan baik hanya mencapai 60%. Jika digambarkan dengan waktu, masyarakat yang ada di Asia terutama Hongkong hanya melakukan aktivitas seperti  jalan dan aktivitas yang lain selama 30 menit per harinya. Lebih jauh lagi Bapak Taufik bercerita bahwa memang di era sekarang semua aktivitas manusia sudah dimudahkan dengan fasilitas-fasilitas berteknologi tinggi, tetapi resiko yang didapat dari kemajuan teknologi tersebut adalah dapat mengurangi aktivitas gerak masyarakat yang.

Dari obrolan yang diceritakan oleh Bapak Taufik ditanggapi dengan responsif oleh rekan-rekan yang berada satu meja dengannya, tanggapan pertama dilayangkan oleh Bapak Fadil. Bapak Fadil berargumen dan menanyakan kepada bapak Taufik bahwa kita selaku mahasiswa dan juga dosen jika ingin melanjutkan studi olahraga selalu dianjurkan untuk melanjutkan ke Hongkong. Dengan kata lain universitas yang berada di Hongkong adalah universitas yang cukup baik utamanya pada bidang olahraga. Tetapi faktanya yang telah dipaparkan oleh Bapak Cong tingkat kebugaran jasmani yang ada di Asia terutama Hongkong 60% dikatakan tidak baik. Lalu, bagaimanakah korelasi antara universitas yang ada di Hong Kong dengan masyarakat yang hidup di Hongkong?. Menanggapi argumen dari Bapak Fadil, Bapak Taufik menjawab dengan santai dan sedikit meremehkan “memangnya yang disarankan untuk study itu di Hongkong bukannya di Taiwan China dan Korea Selatan?”. Mendengar argumen dari Bapak Taufik, Bapak Dona yang mendengarkan dengan seksama juga ikut membenarkan apa yang dikatakan oleh Bapak Taufik, tetapi dengan sihir kuasa yang dimiliki oleh Bapak Fadil ditambahi sedikit argumen dan bumbu-bumbunya akhirnya argumen dari Bapak Taufik dan Bapak Dona dikalahkannya. Bapak Fadil juga menambahkan argumennya bahwa sebenarnya “Bagaimanakah peran universitas yang ada di suatu negara atau di suatu wilayah dapat mempengaruhi pola hidup atau pola pikir masyarakat yang ada di wilayah tersebut?”. Jika kita berkaca di Indonesia, mengapa Indonesia memiliki tingkat kebugaran jasmani yang kurang baik? karena memang Universitas olahraga yang ada di Indonesia masih dapat dikatakan kurang bagus.

Di tengah obrolan kami yang sangat seru, cahaya panas terik matahari mulai menghampiri meja kami. Akhirnya diputuskan oleh Bapak Taufik sebelum melanjutkan diskusi ini lebih baik pindah meja agar diskusi bisa lebih lancar dan nyaman. Setelah disepakati meja mana yang akan ditempati, obrolan dilanjutkan oleh Mas Aang. Mas Aang bercerita mengenai jurnal atau artikel yang telah dibaca yaitu mengenai penerapan model pembelajaran blended learning yang ada di Amerika. Mas Aang bercerita bahwa di Amerika sudah sangat paham mengenai konsep model pembelajaran blended learning. Selain sudah memahami konsep tersebut, Amerika juga sudah menerapkan model pembelajaran blended learning. Wujud dari penerapan tersebut adalah adanya 6 model blended learning yang ada di Amerika. Mas Aang juga bercerita mengenai perbandingan presentase tatap muka, pembelajaran online, dan offline, seperti contoh di Amerika persentase pembelajaran online mencapai 30% hingga 70%.

Model blended learning sebenarnya juga sudah ada di Indonesia. Tetapi penerapan blended learning di Indonesia utamanya pada pendidikan jasmani masih belum tepat sasaran. Realitas yang ada pemahaman terkait blended learning masih berkutat pada media yang akan digunakan untuk pembelajaran blended learning, bukan pada porsi persentase penerapan serta bagaimana menerapkan pembelajaran tatap muka, online, offline yang terdapat dalam model pembelajaran blended learning dengan tepat dan efisien. Pemaparan Mas Aang di atas mendapatkan tanggapan dari rekan-rekan yang duduk satu meja dengannya. Tanggapan yang paling menarik adalah tanggapan dari Bapak Taufik, tanggapan beliau menarik karena beliau pernah mengikuti pelatihan model pembelajaran blended learning. Bapak taufik juga menjelaskan bahwa di Indonesia untuk pembelajaran blended learning memang hanya sebatas bagaimana memahami kerangka atau konsep berfikir masih jauh belum mengaplikasikan model pembelajaran blended learning.

Perbincangan dilanjutkan oleh Bapak Dona yang merupakan dosen di Universitas Negeri Malang dan sekaligus teman seperjuangan dari 2 orang narasumber diawal Bapak Fadil dan Bapak Taufik. Kali ini beliau bercerita tentang artikel yang berjudul modelling home advantage for individual teams in UEFA Champions League football milik Chris Goumas. Bapak Dona menceritakan bahwa modeling home ini digunakan untuk memetakan rasio kemenangan dan kekalahan tim Eropa dalam UEFA Champions League. Sehingga data-data yang ada dapat dijadikan dasar seorang pelatih sebagai pertimbangan untuk menyiapkan komposisi pemain serta strategi apa yang akan digunakan dalam pertandingan.

Penelitian terkait rasio kemenangan setiap tim pada laga kandang memang terbilang sederhana. Namun analisa dalam penelitian tersebut tidak sesederhana seperti yang di asumsikan. Jika dilihat lebih jauh, banyak faktor yang menjadi alasan kenapa setiap tim yang bermain pada pertandingan kandang mempunyai rasio kemenangan yang lebih tinggi. Hal tersebut dapat diukur berdasarkan parameter dukungan fans setia ketika bermain dikandang, adaptasi lapangan yang tentunya tim tuan rumah sangat hafal seluk beluk kondisi lapangan atau tempat pertandingan, dan faktor tanggung jawab emosional setiap tim jika bermain dikandang yang tidak boleh kalah dari tim lawan.

Tak terasa hari semakin petang waktu pada jam tangan pun sudah menunjukkan pukul 17.15 WIB yang artinya waktu untuk berbuka puasa akan tiba. Setelah semua menceritakan serta saling berdiskusi satu sama lain terkait artikel yang sudah dibaca, akhirnya diputuskan untuk mengakhiri kegiatan pada kali ini. Seperti itulah kegiatan kami untuk senantiasa berkontribusi untuk memajukan olahraga yang ada di Indonesia.

Sampai jumpa pada diskusi-diskusi lainnya Salam Literasi Olahraga!!!!!

Jurnal yang dibedah:

Aerobic High-Intensity Intervals Improve VO2 Max More Than Moderate Training

The Rise Of K–12 Blended Learning

Modelling Home Advantage For Individual Teams In UEFA Champions League Football

By: Azhar & Syamsul Anam


Leave a Reply

%d bloggers like this: