Badan Pembinaan Olahraga Mahasiswa Masih Sebatas Penyelenggara Kejuaraan Multi Event

0 Comments

Sejak pandemi awal tahun 2020 semua kegiatan Olahraga berhenti sementara karena alasan untuk menghindari kerumunan, hampir seluruh belahan dunia melakukan hal yang sama. Kejuaraan Olahraga mulai jenjang paling bawah sampai kegiatan olimpiade Olahraga dunia tertunda karena kasus covid yang sangat mencekam pada tahun 2020 sampai 2021. Hal yang sama terjadi pada kejuaraan Olahraga di Indonesia, liga sepakbola, liga bola basket, liga bolavoli dan semua kejuaraan mulai tingkat grass root sampai kejuaraan nomor satu Nasional dihentikan sementara. Kejuaraan mahasiswa juga mengalami nasib yang sama, mahasiswa yang biasanya sangat aktif mengikuti Liga Mahasiswa dan kejuaraan mahasiswa yang diselenggarakan perguruan tinggi secara mandiri harus terhenti juga.

Kejuaraan mahasiswa selama pandemi tidak berhenti serratus persen, masih banyak kegiatan yang dilakukan secara online. Perguruan tinggi dan asosiasi Olahraga mahasiswa berusaha untuk mengadakan acara secara online. Hal ini dilakukan agar atlet mahasiswa masih bisa tetap bertanding dan mengikuti kejuaraan, meskipun banyak pihak mengganggap bahwa kegiatan ini masih belum bisa mengukur kemampuan atlet mahasiswa secara maksimal. Kegiatan virtual yang paling menarik diselenggarakan oleh BAPOMI, bagi yang belum tahun apa itu BAPOMI bisa cari di mesin pencari seperti google atau yang lain. Tahun 2020 BAPOMI jawa timur mengadakan event virtual yang bertajuk “National Sport Virtual Competition BAPOMI Jawa Timur”, kompetisi dilaksanakan secara online sinkronus dan online asinkronus.

Tahun 2022 BAPOMI Jawa Timur mengadakan kejuaraan multievent, kegiatan Pekan Olahraga Mahasiswa Provinsi diselenggarakan untuk memfasilitasi atlet mahasiswa bertanding dalam event Olahraga di Jawa Timur. Kejuaraan ini diikuti hampir 150 perguruan tinggi Negeri dan Swasta di Jawa Timur. Besarnya partisipasi perguruan tinggi patut diberikan apresiasi yang tinggi. Saya tidak akan membahas tentang mengapa perguruan tinggi yang ikut banyak, atau kenapa pertandingan dilaksanakan di Kota Malang. Saya akan sedikit membahas tentang kejuaraan ini dari sudut pandang seorang pengamat diluar lapangan. Perguruan tinggi sebagai agen perubahan harus mempunyai konsep yang bisa mengikuti tren pembinaan Olahraga di dunia, misalnya mengikuti konsep NCAA di USA. Saya akan sedikit mengupas tentang sistem kejuaraan, peserta dan pelatih, sarana dan prasarana, sistem pembiayaan, keberlanjutan kejuaraan, jenjang karir pelatih dan jenjang karir atlet mahasiswa.

Kejuaran diselenggarakan secara serentak di beberapa perguruan tinggi di Kota Malang, sistem kejuaran menggunakan sistem Multi event. Multi event sudah lazim digunakan di Indonesia kejuaraan tingkat kecamatan sudah menggunakan sistem ini. Sistem ini sebenarnya tidak buruk untuk pertandingan olahraga yang jenjang Nasional atau kejuaraan tertinggi dunia seperti Olimpiade musim panas atau musim dingin. Akan tetapi apabila sistem ini digunakan untuk pembinaan Olahraga mahasiswa tingkat lokal atau regional kurang tepat. Mengapa saya bisa berpendapat kurang tepat! Atlet mahasiswa yang bertanding belum mampu digambarkan secara utuh kemampuan terbaiknya, hal ini disebabkan karena pendeknya waktu pelaksanaan kejuaraan.

Kejuaran mahasiswa yang pertama di Jawa Timur diikuti lebih dari seribu mahasiswa dari berbagai cabang Olahraga yang dipertandingkan, karena cabang olahraga pertandingan yang diselenggarakan berdasarkan POMNAS yang akan datang di Padang. Setiap kontingen perguruan tinggi didampingi satu atau kelompok pelatih di masing-masing cabang olahraga, pelatihnya bisa dari dosen, praktisi, alumni atau dari mahasiswa yang lebih senior. Peserta kejuaraan ini adalah mahasiswa yang terdaftar di big data PD dikti, siapa saja yang memiliki Kartu Tanda Mahasiswa (KTM) dan didaftarkan sebagai peserta bisa mengikuti kegiatan ini. Kejuaraan sebesar ini belum menerapkan peraturan khusus bagi atlet mahasiswa, hal ini sangat kontras dengan konsep NCAA yang ada di USA, setiap mahasiswa yang mengikuti liga terbagi menjadi 3 divisi, divisi I, divis II dan divisi III.

Perguruan tinggi sangat memungkinkan untuk merekrut calon mahasiswa yang berprestasi bidang Olahraga, karena jalur seleksi mahasiswa berprestasi sudah terwadahi di Sistem Seleksi Mahasiwa Nasional. Penerimaan atlet mahasiswa menjadi salah satu cara yang bisa dilakukan oleh perguruan tinggi untuk merencanakan pembinaan Olahraga di kampus. Saya melihat masih belum ada pola pembinaan yang utuh dan berjenjang, mahasiswa latihan dengan program yang seadanya, bahkan tidak sedikit atlet latihan menjelang kejuaraan saja. Jangankan program jangka panjang, program latihan bulanan aja sulit untuk dilacak.

Pelatih yang masih terkesan ada! menjadi hal harus menjadi perhatian serius bagi kampus dan asosiasi yang ada, karena sampai saat ini saya melihat masih belum jelas, sebenarnya asosiasi yang mengayomi olahraga mahasiswa itu BAPOMI atau ada yang lain. Karena hal ini belum secara jelas tertulis dan terlaksana secara jelas di lapangan. Masing-masing asosiasi masih tumpang tindih dalam pembinaan atlet mahasiswa. Kembali ke pelatih! Pelatih yang mendampingi atlet masih belum menggambarkan perguruan tinggi seharusnya, pelatih yang ditunjuk pasti hanya waktu kejuaraan ini ada. Menjadi rahasia umum kalau pelatih di UKM atau klub yang ada di kampus masih sebatas sukarela dari mahasiswa senior, alumni, praktisi atau dosen muda yang mempuyai idealis dan kepedulian pembinaan olahraga mahasiswa. Saya yang kurang setuju dengan sertifikasi pelatih dari NGO atau penyelenggara sertifikasi musiman atau mingguan! seorang pelatih seharusnya direkrut secara profesional, karena profesi ini sangat penting perannya untuk pembinaan olahraga atlet mahasiwa. Jangan sampai terjadi kampus sebagai penghasil lulusan salah satunya pelatih, belum bisa menghargai lulusanya secara profesional.

Sarana dan prasarana Olahraga di kampus sudah sangat layak untuk pembinaan atau penyelenggaraan kejuaaran tingkat daerah sampai nasional, meskipun tidak semua perguruan tinggi memiliki sarana yang standar. Pembiayan kegiatan menjadi hal serius seharusnya, tapi hal ini sangat sensititif untuk dibahas.

Peserta yang menjadi juaran satu sampai juara tiga belum tentu bisa mewakili jawa timur diajang POMNAS, apalagi pelatihnya, kejuaraan ini hanya salah satu bagian dari kegiatan untuk seleksi atlet menuju POMNAS, setelah kejuaraan ini selesai masih ada SELEKDA. Ironinya mahasiswa yang mewakili masih bergantung pada kemampuan kampus membiayai atlet untuk berlaga di POMNAS. Jenjang karir atlet yang belum jelas seharusnya membuka mat akita semua agar hal ini tidak menjadi masalah klasik di negeri ini, negara kita mempunyai potensi yang besar apabila mau berpikir, duduk Bersama dan bekerja iklhas untuk pembinaan Olahraga yang berjenjang.

Pembinaan atlet mahasiswa seharusnya menjadi implementasi dari pelaksanaan tri dharma perguruan tinggi Universitas. Pendidikan dan pengajaran, khususnya untuk Perguruan tinggi yang mempunyai Fakultas/jurusan ilmu keolahragaan harus mampu merekognisi pengajaran dengan pembinaan Olahraga di kampus. Pengajaran tidak hanya dikelas saja, dalam arti yang lebih luas pembelajaran bisa bersumber dari permasalahan Olahraga di lingkungan kampus. Penelitian dan pengabdian bukan hanya mengejar indeksasi nasional dan internasional, akan tetapi harus bisa memecahkan permasalah dalam lingkungan kampus. NCAA bisa dijadikan model pembinaan Olahraga jenjang mahasiswa di Indonesia, mulai dari pemanduan bakat, kepelatihan, sistem liga, industri Olahraga.

Oleh: Taufik (penggiat olahraga)


Leave a Reply

%d bloggers like this: