Aparat, warga Wadas serta kode “BO” pada tanyangan sepak bola Indonesia

0 Comments

Dalam minggu minggu ini, baik dalam penyiaran televisi maupun media sosial (kecuali yang suka nonton sinetron dan infotainment artis) sangat mengganggu mata dan telinga kita tentang berita warga Desa Wadas, Kabupaten Purworejo. Pada 8 Februari 2022, terjadi pengerahan aparat dan pengepungan yang dilakukan oleh aparat ke Desa Wadas. Selain itu, pada 8 Februari 2022, aparat kepolisian juga menangkap sekitar 40 orang. Selain itu, akses Internet di Desa Wadas juga terganggu sehingga menambah simpang siur terkait dengan kondisi sebenarnya di Desa Wadas.

Seperti laporan oleh nasional.tempo.co pada tanggal 9 februari, kasus desa wadas ini berwal dari tahun 2013 silam. Pada tahun tersebut warga Wadas telah mendengar akan ada pembangunan bendungan di daerah Purworejo dan Wonosobo, Desa Wadas merupakan desa yang terdampak dari pembangunan tersebut.

Berita tentang Desa Wadas tersebut tentunya menambah penderitaan pikiran kita semua di tengah melonjaknya kasus covid 19 varian omnicron. Apalagi media-media maintsream maupun para jari dan jempol dari manusia yang kurang bertanggung jawab terus-terusan melakukan broadcast melalui pesan singkat dalam gadget kita. Sehingga bukanya menambah literasi tetapi karena malesnya masyarakat kita pada ahirnya kabar yang beredar akan diterima dengan mentah-mentah. Tak terkecuali jika kita memiliki anak yang berusia dibawah 10 tahun. Berita dan tayangan akan kekisruhan seperti di atas tentunya akan memberikan pengalaman yang kurang baik.

Tayangan atau berita yang “mengandung” tayangan “tidak baik” untuk anak-anak seharusnya perlu pendampingan orang tua. KPAI juga sudah melakukan upaya klasifikasi tayangan televisi, tetapi pada era saat ini, yang semua hal bisa di akses dengan mudah akan mengalami sedikit kendala terkait dengan kode-kode KPAI, PI Pusat mengadakan mengadakan Focus Group Discussion (FGD) Informan Riset Indeks Kualitas Program Siaran Televisi Tahun 2021 pada Senin (31/05/2021), salah satu hasil dari FGD tersebut adalah Terdapat tiga kategori program dengan penilaian yang relatif baik, yaitu Berita, Religi dan Wisata Budaya. Tayangan dalam ketiga kategori ini tidak menyajikan berbagai adegan negatif. Dengan berbagai instrumen yang ada, Berita merupakan tayangan yang relatif aman, sebab berisi pemberian informasi yang up to date dan tidak mengandung informasi hoaks. Hanya saja masih terdapat beberapa adegan yang tidak diburamkan padahal mengandung konten kekerasan. 

Terkait dengan tanyangan kekerasan di televisi, olahraga yang merupakan kegiatan dengan semboyan fair play minggu lalu ternodai dengan aksi pengeroyokan pemain NZR Sumbersari Malang kepada pengadil lapangan yang dianggap “tidak becus” memimpin pertandingan yang pada saat itu melawan Farmel FC, pertandingan yang digelar di stadion gajayana kota malang pada tanggal 9 Februari 2021. Beredar video berdurasi 30 detik yang mempertontonkan kelincahan wasit saat dikejar oleh beberapa pemain, tentunya bukan untuk merebut bola, tetapi untuk melampiaskan amarahnya.

Kejadian pada gelaran liga 3 sepakbola indonesia tersebut bukan kali pertama, sederet kejadian senada yang cukup sumbang tersebut acap kali terjadi, tentunya hal itu berdampak buruk terhadap prestasi sepakbola indonesia. Jika kita menilik dari konteks literasi, anak-anak indonesia butuh tontonan sekaligus tuntunan, anak-anak indonesia yang bercita-cita menjadi pemain sepakbola butuh figur-figur untuk dijadikan panutan saat kelah ia menjadi pemain profesional. Jika yang ada saat ini adalah kelihaian menendang punggung wasit serta memukul kepala lawan saat di atas hamparan rumput stadion, bukan hanya asumsi tapi bisa dipastikan generasi usia bawah akan menjadikan hal tersebut pengalaman yang sangat membekas. Pertandingan sepak bola baik liga 1 sampai dengan liga 3 harusnya menjadikan sumber literasi generasi penerus bangsa, saat ini malah menjadi triger kepada anak-anak indonesia untuk melakukan tindak kekerasan. Sangking jamaknya kekerasan di atas lapangan hijau ”seakan-akan” sudah menjadikan hal tersebut suatu yang wajar.

Proses berliterasi olahraga anak indonesia saat ini masih jauh panggang dari pada api, butuh banyak perbaikan sana sini, terutama peran orang tua. Bagaimana orang tua harus peka dalam mendampingi anaknya berliterasi olahraga baik dilapangan langsung maupun saat dirumah dalam waktu menonton tayangan olahraga. Tanda tanyangan “BO” (bimbingan orang tua) harus tersemat disetiap laga sepak bola indonesia, sehingga para orang tua bisa hadir tepat disamping anak kesayangan yang bercita-cita menjadi seperti ronaldo atau leonel messi. Orang tua harus sigap menutup mata sang buah hati atau mengganti chanel jika tiba-tiba terjadi pengejaran, pemukulan atau pengeroyokan baik oleh pemain ke pemain lain, pemain kepada wasit, atau suporter kepada wasit. Tentunya hal tersebut merupak tindakan preventif untuk tetap menjaga kemurnian cita-cita anak kita menjadi pemain sepak bola profesional yang bergelimang harta serta menjadi super hero bagi klub serta bangsa dan negara, tentunya Indonesia. maju terus olahraga indonesia, segera berbenah pembinaan olahraga indonesia. salam.

N.R. Fadhli (Pelatih Go Back To Door)


Leave a Reply

%d bloggers like this: